Pemahkah kita menyadari bahwa doa kita sering

oo kali hanya berpusat pada diri sendiri: kebutuhan,

pergumulan, atau rasa syukur kita pribadi? Rasul Paulus

mengingatkan Timotius agar jemaat menaikkan doa

00 “untuk semua orang” (ay.1). Ternyata doa tidak berhenti

di lingkaran kecil kehidupan kita. Doa membuka mata hati kita untuk melihat dunia seperti Allah melihatnya.

00 Doa syafaat adalah undangan untuk menyatu dengan hati Bapa. Hati Allah rindu semua orang mengenal kebenaran dan diselamatkan (ay.4). Maka, ketika kita berdoa bagi bangsa, pemimpin, orang yang berbeda pandangan, bahkan mereka yang menyakiti kita, sesungguhnya kita sedang masuk ke dalam irama kasih Allah. Kita belajar meninggalkan ego, dan perlahan hati kita dipulihkan agar sejalan dengan kerinduan-Nya.

Mari kita bertanya pada diri: apakah doa kita hanya untuk diri sendiri, ataukah sudah meluas kepada mereka yang Tuhan rindukan? Melalui doa syafaat, kita dilatih untuk mengasihi tanpa batas, seperti Bapa yang mengasihi tanpa pilih kasih. Biarlah setiap doa kita menjadi jembatan kasih, tempat kita menyatu dengan hati Allah dan menghadirkan damai-Nya bagi dunia.

(ACA)

You May Also Like

Kasih: Makanan Bagi Kerukunan Bangsa

Apa pentingnya hidup rukun dengan sesama? Tentunya ketika kita hidup di tengah…

Si Berakar Dalam Iman Bertumbuh Dalam Pengajaran

Rasul Paulus menggambarkan kehidupan orang Kristen sebagai tumbuhan di mana tujuan dari…

Ketaatan Karena Kasih

Dalam keseharian kita, saat kita menghadapi kesulitan dan memutuskan untuk tetap taat…