Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang orang “ikut Yesus” hanya karena tradisi keluarga, dorongan lingkungan, atau perasaan sesaat. Namun Yesus menegaskan bahwa mengikut Dia bukan sekadar formalitas. Iman Kristen bukanlah seperti menjadi followers seorang influencer di media sosial yang cukup dengan satu kali ketuk. Mengikut Yesus menuntut kesungguhan hati, kesediaan untuk taat, dan komitmen untuk setia. Ada harga yang harus dibayar: berani melepaskan segala keterikatan yang menghalangi kita untuk tetap setia kepada Kristus.
Ikut Yesus berarti siap berjalan di jalan yang tidak selalu mudah. Dunia menawarkan kenyamanan instan, kesenangan sementara, dan jalan pintas yang tampak menggoda. Tetapi Yesus memanggil kita untuk tetap setia berjalan dalam kebenaran, meski harus menghadapi tantangan, penolakan, bahkan pengorbanan. Ia berkata, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Lukas 14:33). Artinya, Yesus meminta keberanian kita untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya.
Karena itu, mari kita renungkan: apakah kita sungguh-sungguh ikut Yesus, atau hanya ikut-ikutan? Kiranya kita tidak hanya menjadi followers Kristus saja, melainkan murid Kristus yang setia sampai akhir. (ACA)