Dalam peziarahan iman, kita sering kali merasa bimbang menghadapi arah hidup yang tidak menentu. Melalui pembacaan Yosua 1:1-9 dan Mazmur 119:97-105, kita diingatkan bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya berjalan dalam kegelapan, melainkan memberikan Firman-Nya sebagai penuntun yang setia.
Teks Yosua 1 ditulis dengan tujuan memberikan penguatan dan mandat kepada Yosua di masa transisi kepemimpinan yang krusial. Tuhan menegaskan bahwa keberhasilan Yosua dalam melanjutkan perjuangan Musa bukan terletak pada kekuatan militer, melainkan pada ketaatannya untuk merenungkan dan melakukan hukum Tuhan siang dan malam. Di sini, umat diajak mengerti bahwa ketaatan pada Firman adalah wujud kesediaan kita untuk dituntun oleh Tuhan. Tanpa berpegang pada Firman, langkah kita mudah goyah, namun dengan hati yang teguh pada janji-Nya, kita akan berhasil ke mana pun kita melangkah.
Selaras dengan itu, Mazmur 119 ditulis sebagai pengakuan iman akan indahnya hukum Tuhan yang memberikan hikmat melampaui akal manusia. Pemazmur menyadari bahwa Firman adalah “pelita bagi kaki” dan “terang bagi jalan,” sebuah gambaran praktis bahwa setiap langkah hidup memerlukan arahan ilahi agar tidak tersesat dalam kegelapan dunia.
Oleh karena itu, marilah kita melanjutkan setiap karya dan perjuangan hidup dengan hati yang teguh berpegang pada Firman. Ketaatan kita bukanlah sebuah beban, melainkan jaminan bahwa Tuhan sedang menuntun kita di jalan yang benar. Sebagaimana Yosua dikuatkan untuk masuk ke tanah perjanjian, kiranya kita pun melangkah dengan berani karena meyakini bahwa Firman Tuhan adalah otoritas tertinggi yang memandu setiap keputusan dan tindakan kita sehari-hari.
– PRB
Ketaatan akan Firman Tuhan adalah wujud iman yang sejati