Masih menjadi pembicaraan dalam khalayak ramai dan medsos tentang penganiayaan seorang anak pejabat MDS terhadap D yang baru sadarkan diri dari koma, beberapa hari yang lalu. Peristiwa ini menarik perhatian dan berbuntut pemeriksaan harta kekayaan orang tua karena sang anak MDS suka sekali memamerkan kekayaan milik orang tuanya. Komisioner Perlindungan Anak Nasional (KPAI) Retno Listyarti sampai mengungkapkan bahwa sikap dari MDS yang suka memamerkan harta kekayaan orang tuanya disebabkan oleh karena ia memiliki salah satu sikap haus akan penghargaan.
Hal ini pula yang dialami oleh perempuan Samaria yang berjumpa dengan Yesus di sumur Yakub yang mengalami kelamnya jalan hidup yang dilalui, dan sejatinya ia sudah lelah karena pencahariannya tiada berakhir. Ia butuh seseorang yang dapat memberikan makna terhadap hidupnya. “.. engkau sudah mempunyai lima suami dan yang sekarang ada padamu, bukanlah suamimu….” Itulah yang dikatakan Yesus terhadap perempuan itu. Yesus tidak ingin mempermalukan dan menghakimi bahwa dia hidup dalam dosa, tetapi lebih pada pernyataan bahwa Yesus tahu persis apa yang ada dalam dirinya. Yesus menghampiri perempuan yang penat, letih lesu dan berbeban berat, serta hancur kehidupannya karena ia dihindari dan dipergunjingkan masyarakat luas. Yesus datang berdialog, meminta air sumur yang ditimbanya dan mengangkat perempuan itu serta mengembalikan kepercayaan pada harga dirinya. Sungguh menyegarkan!
Yang dibutuhkan perempuan itu adalah orang yang dapat memberikan harapan dan menunjukkan bahwa mereka bernilai, istimewa, berharga dan penting. Yesus menerima dan mencintai orang-orang yang hancur dan tersingkirkan. Dan lihat perempuan Samaria itu kini telah mendapatkan air kehidupan, dirinya disegarkan oleh karena Yesus mengembalikan percaya dirinya, pengharapannya, serta kesaksian tentang perjumpaannya dengan sumber air kehidupan. Adakah saudara juga telah