Berpegang Pada Firman
Kisah “Orang Samaria yang Baik hati”. Saya ingin mengajak saudara untuk berperan menjadi orang Yahudi yang dirampok, terkapar dan berjuang antara hidup dan mati dalam cerita tersebut.
Dalam keadaan setengah mati itu, saudara pasti berharap, “akan ada orang yang datang membantuku.” Benar! Tak lama kemudian, ada seorang imam (pendeta) lewat. Imam (pendeta) yang pasti tahu hukum kasih hanya melewati si korban dan berjalan memutar. Kemudian muncul lagi seorang Lewi, sama seperti majelis jemaat. Tapi dia juga cuma lewat dan berjalan memutar.
Bagaimana perasaan saudara? Sudah sakit, masih harus kecewa karena imam dan orang Lewi, pendeta dan majelis, itu hanya lewat dan bahkan menjauhi. Tentu saat itu saudara mulai marah dengan kenyataan yang dihadapi. Kekecewaan dan kemarahan itu semakin memuncak ketika yang datang untuk ketiga kalinya adalah seorang Samaria. Kita tahu bersama, orang Samaria adalah orang yang dianggap kafir, najis, patut dijauhi, tidak seagama, golongan hina. Hal yang menarik, justru orang asing yang sendirian di daerah Yahudi itulah yang turun dari keledai dan menolong saudara sampai tuntas.
Cerita ini luar biasa! Pasti saudara amat kecewa karena pendeta dan majelis – tokoh masyarakat – tahu saudara kritis namun tidak menolong. Saudara harus kecewa dua kali karena justru yang datang menolong adalah musuh dalam masyarakat saudara, orang yang selama ini dianggapnya najis, kafir dan tak bermoral namun mereka telah menjadikan saudara sebagai sesama manusia, karena mereka berpikir jika saudara bukan sesama dalam agama dan suku, tetapi setidaknya saudara sebagai mahluk Tuhan dalam ciptaanNya. Siapakah yang seharusnya berbalik (bertobat) dan harus mendalami finman Tuhan, Imam dan orang Lewi, atau orang Samaria itu. Pergilah dan perbuatlah demikian. (JS)