Persembahan berasal dari kata dasar sembah. Dalam Alkitab Perjanjian Lama persembahan lazimnya berbentuk korban baik itu binatang maupun hasil-hasil pertanian. Dalam Perjanjian Baru persembahan dikaitkan dengan Yesus Kristus yang mempersembahkan dirinya sebagai kurban. Sehubungan dengan itu maka pengorbanan Kristus diperingati sebagai ekaristi (perjamuan kudus) yang disimbolkan dengan roti dan anggur. Dalam tradisi jemaat mula-mula mereka memaknai persembahan itu dengan berbagi makanan dan milik kepunyaan mereka satu dengan yang lain. Persembahan dalam kehidupan Kristen selanjutnya menjadi pranata agama yang harus dilakukan. Meski sering diiringi pro dan kontra misalnya wajib atau tidak, banyak atau sedikit, dikaitkan dengan kesalehan, dll. Tak hanya itu banyak tidaknya persembahan yang diberikan sering menjadi pembeda tinggi rendahnya status anggota dalam jemaat. Akibatnya motivasi dalam memberi persembahan pun menjadi beragam.
Namun apakah makna sesungguhnya dari persembahan itu? Persembahan adalah wujud pernyataan iman. Persembahan adalah tindakan simbolik liturgis umat dalam hubungannya dengan Tuhan. Sebagai contoh kalau saja seseorang memiliki pendapatan 3 juta rupiah perbulan lalu ia menyisihkan Rp. 300,000 setiap bulannya. Jika dihitung-hitung uang sebesar itu mungkin bisa dibelikan makanan untuk bertahan hidup 3-5 hari. Tak hanya itu gaji sebesar 3 jt mungkin juga tidak cukup untuk hidup sebulan, namun ia tetap menyisihkan sebagian sebagai persembahan.
Hal itu menunjukkan bahwa hidupnya bukanlah bergantung pada uang yang dikumpulkannya melainkan pada Tuhan. Itulah sebabnya Yesus memuji seorang janda miskin yang datang membawa persembahan ke bait suci. Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang…’. Yesus memujinya karena ia memberi dari kekurangannya, yang menunjukkan bahwa ia bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan bukan pada apa yang dimilikinya.