Seorang pengemis duduk di depan gereja, tetapi kemudian ikut
masuk ke dalam gereja. Semua orang menolak didekatinya,
sampai tiba seorang bapak menyilakan dia duduk di sampingnya.
Selesai khotbah. Pendeta memperkenalkan calon pendeta baru
di jemaat tersebut. Pengemis itu berdiri lalu diminta maju ke
depan mimbar. Semua jemaat tersipu-sipu karena yang mereka
tolak tadi ternyata calon pendeta jemaat di gerejanya. Itulah gambaran belas kasih Allah yang tidak mudah kita mengerti. Allah yang menjadi manusia dan mau dekat kepada semua orang.
“ Belas kasih Allah dan belas kasih manusia. Belas kasih Allah selalu mengajak untuk berubah. Dua kali Tuhan mengajak: ”Marilah” (Hos. 5:1,3). Belas kasih Allah itu menyembuhkan, membalut, menghidupkan. Tetapi balasan kasih setia manusia justru seperti kabut pagi yang cepat hilang. Apakah kita seperti yang digambarkan Allah ini ?
“ Belas kasih Allah adalah kasih setia-Nya yang berlaku kepada semua orang. Orang berdosa yang dibenarkan karena imannya kepada Kristus, itulah bukti dari belas kasih Allah (kasih karunia Allah). Matius, pemungut cukai yang dibenci banyak orang dipanggil menjadi murid Yesus dan Yesus sendiri makan bersama dengan orang-orang berdosa. Tuhan Yesus berkata: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa (Mat. 9:13). Sadarilah bahwa kita termasuk yang mendapat belas kasih Allah.
“ Belas kasih Allah dibalas dengan persembahan hidup kita. Matius mempersembahkan hidupnya dengan cara mengikut Tuhan dan perempuan yang disembuhkan itu mempersembahkan iman percayanya bahwa dengan menjamah jubah Yesus, maka sakitnya sembuh. Allah menyukai persembahan hidup kita bukan persembahan manusia yang diwakilkan melalui korban binatang (Hos. 6:6). – AGP