Apa reaksi kita bila melihat orang sakit yang detak jantungnya berhenti? Itu tanda tidak ada kehidupan lagi alias mati. Bagaimana kalau gereja ibarat orang sakit yang detak jantungya tidak hidup lagi? Mau dibiarkan saja dalam kondisi demikian, itu bukan urusanku. Khotbah yang didengar sudah dilupakan. Tidak ada efeknya lagi. Atau kita segera tergerak untuk menolong gereja yang “sakit” itu dengan kasih dan perhatian terhadap jemaat-Nya? Mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah sebagai umat Allah, detak jantung kasih dan iman kita masih hidup? “ Pakai pikiran dan hati. Bukan hanya pakai tangan untuk menunjuk-nunjuk orang lain. Itu salahnya sendiri, salahnya si A, si B, gereja kurang ini, gereja kurang itu. Jantung gereja adalah kita, jemaat-Nya yang hidup melalui kata dan perbuatan, belas kasihan bukan menunjuk-nunjuk orang lain. Periksakan jantung hidup kita, jantung iman dan kasih kita kepada Tuhan Yesus.
“ Taburkan pengampunan. Tidak etis jikalau hanya menyalahkan orang lain. Ingat Tuhan kita adalah Pengasih dan Penyayang. Tuhan mau pakai kita untuk merangkul mereka yang membutuhkan belas kasihan. Orang-orang yang tidak tahu apa yang harus diperbuat dan dijauhi dari sesamanya. Tuhan Yesus bisa memulihkan orang yang dirasuk setan, kita bisa dipakai untuk memulihkan orang yang kurang mendapat belas kasihan.
“ Pilihlah belas kasihan bukan penghakiman. Yang menjadi Hakim atas hidup kita adalah Allah, yang sanggup menggoncangkan bumi dan langit. Kita hanya hamba dan alat di tangan Tuhan untuk melakukan perintah-Nya dengan tulus dan benar dalam kata dan perbuatan. Itulah belas kasihan. Cara Allah merangkul umat-Nya sehingga umat merasakan kedekatan-Nya.
(AGP)
Jantung Yang Berdebar Membuat Resah, Tapi Tangan Yang Merangkul Dengan Kasih