Seorang pengemis laki-laki duduk meminta-minta di depan gereja. Semua umat yang akan ke gereja melihatnya, ada yang memberi, ada yang hanya melewatinya. Ketika ibadah dimulai, pengemis itu ikut masuk ke dalam gereja lalu mencari tempat duduk. Semua orang jijik melihatnya dan tidak memberi tempat sampai akhirnya pengemis itu menemukan satu bangku kosong paling pinggir. Ketika ibadah hampir usai, Majelis Jemaat mengumumkan tentang hadirnya seorang pendeta baru di jemaat itu. Pendeta baru itu dipersilakan berdiri, maka berdirilah “pengemis laki-laki” itu dan ternyata dialah pendeta baru itu. Jemaat terkejut dan tersipu-sipu karena mereka tidak memberi tempat kepada “pengemis yang pendeta” itu.
Penampilan sederhana kadang mengecoh banyak orang. Seperti Yesus ketika masuk ke kota Yerusalen, bukan naik kuda, melainkan naik keledai. Binatang itu lambang kesederhanaan dan kerendahan hati (Yohanes 12: 12-16). Yesus yang adalah Allah, Dia yang lahir di kandang domba, kini naik keledai masuk Yerusalem. Yesus adalah Allah yang merakyat, dekat dengan umat-Nya. Cara ini dipakai untuk mengajar umat agar jangan berpikir yang terlalu jauh tentang Dia. Dia datang dengan kesederhanaan, siap menolong setiap orang yang percaya. Kita diminta untuk beriman yang sederhana seperti Dia yang sederhana. Bukan selalu berharap yang spektakuler dan penuh mukjizat. Yesus bisa melakukan dengan cara yang tipis namun besar kuasa-Nya. Kita harus belajar untuk peka merasakan kehadiran-Nya yang tidak terduga. Pengemis yang pendeta itu belajar meniru Tuhan Yesus masuk ke gereja dengan cara berbeda. Oleh sebab itu jangan salah untuk beriman kepada Tuhan Yesus. Cukup dengan sederhana dan kenali Dia dengan benar.
IAGPJ
Beriman Dengan Sederhana Akan Merasakan Kuasa dan Kehadiran-Nya