Manusia mudah menilai sesamanya dari segala sesuatu yang terlihat: penampilan, kepemilikan, jabatan, prestasi, dan sebagainya. Sayangnya, justru yang kelihatanlah yang mudah dipalsukan. Selain itu, memang ada banyak hal terkait kehidupan seseorang yang tidak selalu tampak. Penerimaan terhadap sesama yang didasarkan hanya pada apa yang terlihat akan menjadi sebuah penerimaan yang sempit, apalagi jika yang terlihat itu yang kemudian menentukan sikap kita terhadap mereka. Misalnya, seseorang yang memiliki banyak harta diperlakukan lebih terhormat daripada orang yang tidak memiliki harta. Jika seorang yang dihormati itu tiba-tiba kehilangan hartanya, apa yang akan terjadi terhadap dirinya? Mereka yang semula menghormati hanya karena hartanya, bisa tidak lagi menghormatinya dalam keadaan tanpa harta. Sebaliknya, penerimaan tanpa membedakan hal-hal yang terlihat itu akan membawa kita pada relasi kasih yang teruji: penerimaan yang tulus dan murni, seperti Kristus yang mengasihi tanpa membedakan.

Rasul Yakobus memberikan peringatan agar pengikut Kristus tidak membedakan orang berdasarkan segala sesuatu yang kelihatan. Menariknya, sikap tidak membedakan orang ini oleh Yakobus dikaitkan dengan iman pengikut Kristus. Tidak membedakan orang bukan hanya merupakan sebuah “tindakan baik”, melainkan wujud dari iman kepada Kristus, sebab iman harus diamalkan tanpa memandang muka (ay. 1b). Memandang muka berarti memberikan perhatian khusus terhadap orang tertentu karena sesuatu yang dimilikinya. Yakobus menegaskan bahwa sikap memandang muka ini merupakan sebuah kejahatan/ dosa (ay. 4, 9). Dasar utama pemikiran ini jelas: karena Allah pun tidak memandang muka. Allah mengasihi, merawat, berpihak pada orang yang miskin, sengsara, tertindas dan teraniaya (Yesaya 61:1).

Setiap pengikut Kristus mestinya memancarkan sifat Allah yang penuh kasih terhadap semua orang. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan ini tidak seharusnya membuat sikap kita terhadap orang-orang tertentu berbeda. Penerimaan akan sesama perlu dilakukan dengan tulus, seperti kita mengasihi

Ai Lita GAniiri fa DN Oalaaat MAnAabi dai aan Ai tanaah

You May Also Like

Adven 4

21 Desember 2014 Belajar Setia Dari Maria Lukas 1:26-38, 46-55 Seseorang bersedia…

Teruslah Berbuat Baik, Jangan Gentar!

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud…

Adven2 . # Dari Baptisan Menuju Pengudusan

Pada minggu kedua masa adven ini, kita dibawa pada penghayatan kembali akan…

PAK . (49) 0410070 mail : gkipeterongan@gmail.com Vebsite : www.gkipeterongan.org Kegembiraan Hidup Di Dalam Tuhan Yakobus 1:17-27

isia, seringkali mengukur kebahagiaan dan kegembiraan dengan cara kasat mata (sehat, tanpa…