Kita patut bersyukur bahwa Alkitab yang adalah firman Tuhan dapat sampai di tangan kita dalam bahasa Indonesia yang mudah kita mengerti. Tapi tahukah Saudara bahwa Alkitab berbahasa Indonesia ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang? Diawali dengan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu pertama kali yang dilakukan oleh Albert Cornelisson Ruyl (1629). Ia menerjemahkan Injil Matius dan Markus. Kemudian dilanjutkan Jan van Hasel (1651) yang menerjemahkan Lukas dan Yohanes. Setelah berbagai proses penerjemahan, akhirnya Alkitab berbahasa Melayu versi lengkap pertama kali diterbitkan pada tahun 1733. Alkitab ini sebagian besar merupakan terjemahan Melchior Leijdecker dan sebagian lainnya dilanjutkan Pieter van der Vorm karena Leijdecker meninggal sebelum menyelesaikan semuanya.
Perjalanan ini masih terus berlanjut dengan berbagai tahap penerjemahan hingga akhirnya terbentuklah Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) pada tanggal 9 Februari 1954. Maka terbitlah Alkitab Bahasa Indonesia Terjemahan Lama di tahun 1958. Kemudian diperbarui pada tahun 1974 (TB — Terjemahan Baru) yang masih kita pakai sampai sekarang. Dan saat ini LAI tengah mengerjakan Terjemahan Baru 2 untuk menyesuaikan dengan perkembangan bahasa yang terus terjadi dari masa ke masa. Di samping itu, LAI juga terus menerjemahkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa suku yang ada di Indonesia. Semua itu dilakukan agar makin banyak masyarakat Indonesia yang dapat membaca dan memahami berita firman Tuhan.
Jika Tuhan telah mengutus hamba-hamba-Nya untuk memberitakan firman Tuhan dengan cara menerjemahkan, mencetak, dan mendistribusikan Alkitab dengan pencurahan segenap waktu, pikiran, tenaga, serta dana, lalu apakah kita juga bersedia diutus oleh-Nya? Jangan sampai firman Tuhan putus di tangan kita. Marilah memberi diri dengan segenap hati untuk