Minggu Adven ketiga dikenal sebagai Minggu Sukacita. Namun sering kali sukacita justru terasa paling jauh ketika hidup sedang menekan.
Daud pernah berada di titik seperti itu: hatinya hancur mendengar kematian Absalom, anak yang dikasihinya. Tetapi sebagai raja, ia dituntut tetap berdiri teguh di hadapan rakyat. Duka dan tugas bertabrakan. Hati dan tanggung jawab saling menarik. Itulah dilema yang membuat langkah terasa berat.
Kisah Daud mengingatkan kita betapa manusiawi ketika kita merasa rapuh, letih, atau terbelah antara apa yang kita rasakan dan apa yang harus kita lakukan. Dalam momen seperti itu, kita tidak diminta untuk pura-pura kuat. Kita diajak untuk kembali kepada sumber sukacita yang lebih dalam—sukacita yang bukan berasal dari keadaan, melainkan dari Tuhan sendiri.
Maria berkata, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk. 1:46–47). Sukacita Maria muncul bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena ia percaya Allah hadir dan bekerja, bahkan di tengah ketidakpastian.
Adven mengingatkan kita: sukacita bukan hasil menghindari derita, tetapi anugerah yang memampukan kita melaluinya. (EBWR)
Ketika dilema menekan, biarlah kasih karunia Tuhan menjadi sukacita yang menegakkan kembali langkah kita