Suatu puisi ditemukan dalam bentuk goresan di dinding kamp konsentrasi yang dituliskan pada masa Perang Dunia II. Bagian akhirnya tertulis seperti ini:

Semoga suatu saat mentari akan bersinar, semoga suatu saat akan ada kebahagiaan, semoga suatu saat akan ada cinta, semoga suatu saat akan ada damai.

Itulah sebuah doa sederhana yang makin menampakkan ironi bagaimana perang yang dilakukan dengan tujuan untuk membawa damai, malah pertama-tama malah merenggut kedamaian itu sendiri. Sama seperti yang diungkapkan dalam bacaan Alkitab kita minggu ini, dalam 2 Samuel 8:1-2, 13-15 tercatat bagaimana Daud berperang di sana sini, untuk pada akhirnya menegakkan keadilan dan kebenaran, membawa kedamaian bagi bangsanya. Sebuah ironi, ketika kedamaian harus dicapai melalui jalan peperangan. Namun, dalam hikmat Tuhan kita mengerti, bahwa konteks saat itu, ketika suku-suku bangsa senang bertempur satu dengan yang lain, tidak ada jalan lain untuk mendapatkan damai selain berperang. Tetapi kemudian Yesus hadir, menawarkan jalan yang anti kekerasan, yang tanpa perlu ada peperangan, untuk menghadirkan kedamaian. (XND)

2 Jas

You May Also Like

apebrtar 2015 Lebih Dari Mujizat

Apa yang paling Anda harapkan ketika mengikut Tuhan Yesus: mendapatkan mujizat atau…

Belarasa dengan Ucapan Syukur

Ketika Yohanes Pembabtis baru saja dieksekusi oleh Herodes maka sasaran selanjutnya adalah…

Berani Berkata Tidak

Di tahun 2014 ini ada beberapa ajang pencarian bakat  yang diselenggarakan beberapa…