Transfigurasi (pemuliaan) adalah transformasi supranatural Yesus ke dalam kemuliaan. Dalam peristiwa itu Yesus disebutkan berubah rupa dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Musa dan Elia nampak berbicara kepadaNya, sementara Petrus mengusulkan agar ia membangun tiga tenda di sana. Dalam waktu yang bersamaan turunlah awan menyelimuti mereka dan terdengarlah suara yang menyatakan kedudukan Yesus sebagai Anak Allah dan kekuasaan-Nya.
Kehadiran Musa dan Elia dalam transfigurasi itu mewakili hukum Taurat dan para nabi yang memberi nubuatan dan kesaksian tentang Mesias. Sementara suara dari sorga menandakan bahwa Yesus bukan hanya Mesias yang dijanjikan tetapi juga adalah Nabi yang disebutkan dalam UI. 18:15 bahwa ‘seorang nabi dari tengah-tengahmu dari antara saudara-saudaramu,… akan dibangkitkan oleh TUHAN, Allahmu dialah yang harus kamu dengarkan’. Sedangkan awan melambangkan kehadiran Allah dalam selubung. Yesus naik ke surga ditutupi awan dan kedatangan-Nya kelak akan disertai pula dengan awan (Why. 1:7). Tiga tenda yang diusulkan dibangun oleh Petrus merupakan sebuah pengingat yang menunjuk pada hari raya Pondok Daun seperti yang dilakukan oleh orang-orang Israel saat berada di padang gurun. Mereka tinggal dalam tenda.
Jadi kisah transfigurasi haruslah dimengerti berdasarkan latar belakang cerita Perjanjian Lama terutama mengenai Musa yang mukanya pernah bersinar karena pantulan sinar kemuliaan Allah. Tetapi di atas gunung itu, Yesus bersinar dengan kemuliaan- Nya sendiri dengan pakaian-Nya yang berkilat-kilat. Tetapi Ia tidak tinggal ‘berkemah’ di atas gunung dengan kemuliaan-Nya melainkan turun dari atas gunung. Hal itu menjadi simbol bahwa Yesus ada di antara manusia, bersama-sama dengan manusia berjalan melalui ‘padang gurun’ kehidupan. Ia tidak menetap dalam sebuah tenda atau gunung yang tinggi melainkan hadir dalam segala aspek kehidupan dengan penyertaan yang kekal,