Taj Mahal adalah salah satu warisan dunia yang sangat mengagumkan. Terletak di India dan dibangun oleh Shah Jahan pada tahun 1631. Taj Mahal ia dedikasikan untuk istrinya yang sangat disayangi Mumtaz Mahal yang  meninggal ketika melahirkan anak mereka yang ke-14, saat sedang di medan pertempuran. Taj Mahal dibangun dengan melibatkan 20.000 pekerja dengan Ustaz Ahmad Lahauri sebagai arsiteknya. Bahan bangunannya diambil dari seluruh India dan Asia Tengah dengan menggunakan 1.000 gajah. Setelah Taj Mahal terselesaikan maka Ustaz Ahmad Lahauri dijatuhi hukuman pancung dan semua pekerja dipotong tangannya agar tidak membangun bangunan yang akan menyaingi Taj Mahal. Itulah ekpresi kasih yang ditunjukkan oleh Shah Jahan untuk Mumtaz Mahal, istri yang dikasihinya. Tapi di sisi lain ia menunjukkan kebengisannya yang tak berperi kemanusiaan.
Kadang-kadang kita terjebak melakukan hal serupa. Kita menunjukkan sikap mengasihi Allah dengan setia mengunjungi gereja, mengikuti persekutuan-persekutuan doa, memberi persembahan, melayani di gereja dan lain-lain. Tetapi dalam waktu yang bersamaan tetap melakukan kejahatan, tidak peduli/masa bodoh terhadap mereka yang menderita dan yang tersesat.
Tetapi, seperti bidan-bidan dalam pembacaan kita hari ini yang takut akan Allah, mereka menunjukkannya dalam perbuatan dengan menyelamatkan bayi-bayi orang Ibrani walau risikonya nyawa mereka. Atau seperti Puteri Firaun yang rela berkorban untuk menyelamatkan bayi Musa dari kematian dan kebinasaan.
Mengasihi Allah tak cukup dengan kata, memberikan persembahan atau sibuk dengan aktifitas rohani. Melainkan mempersembahkan hidup untuk melakukan perintah-perintahNya sepenuh hati tanpa keraguan. Mengasihi sesama – menolong yang menderita dan menyelamatkan yang akan binasa. Itulah ibadah yang sejati – ibadah yang berkenan kepada Allah. Selamat HUT GKI dan selamat mewujudnyatakan ibadah yang berkenan kepada Allah. – PRB

You May Also Like

Dari Baptisan Menuju Pengudusan

Pada minggu kedua masa adven ini, kita dibawa pada penghayatan kembali akan…

Iman yang Teguh, Tak Bergoncang Impian Masa depan Andai menjauh Nyatanya lenyap Yang sedikit-sedikit Ah tak pernah jadi bukit Nasib tulis surat pada takdir Gagal bercerita kabar sukacipta Tak buat suka, tak buahkan cipta Eh malah terus melongsor berguguran

Godaan merayu meneteskan gula di kala sayu Untunglah Kalam mendayu, menghenyak ragu…

Pra Paska IV Pengampunan, Awal dari Pemulihan

Seorang pemilik periuk tanah liat lebih memilih membeli periuk baru daripada memperbaiki…