Pada tanggal 10 Oktober yang lalu, kita memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Dalam pengertian sehari-hari, masalah kesehatan manusia biasanya lebih banyak dikaitkan dengan kesehatan fisik. Padahal, kesehatan seseorang bukan hanya terkait kondisi fisiknya. Belakangan ini semakin banyak masalah-masalah serius yang disebabkan oleh gangguan kesehatan mental. Angka bunuh diri terus meningkat. Angka bullying di antara generasi muda juga semakin tinggi dan mengakibatkan banyak anak hingga usia pemuda merasa tertekan. Trauma yang tak banyak diketahui dapat memicu tindakan-tindakan yang mengejutkan. Banyak orang tenggelam dalam rasa gagal, rasa terpuruk, tertolak, kesepian ataupun malu, dan tidak segera mendapat pertolongan yang dibutuhkan.
Bacaan Mazmur 42 memaparkan dengan jelas sebuah perjalanan hidup orang percaya dalam menghadapi beratnya beban hidup. Tidak dijelaskan secara eksplisit di sini apa persoalannya, tetapi peristiwa itu membuatnya merasatertekan, gundah gulana, gelisah, merasa diolok/ dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitamya: Di mana Allahmu? Peristiwa itu juga membuatnya merindukan Tuhan dan pertolongan-Nya dengan amat sangat, meski pemah juga ia merasa ditinggalkan. Dengan kasih-Nya, Tuhan selalu terbuka untuk mendengarkan seruan umat-Nya yang berada dalam rasa gelisah dan tertekan. Ia tidak menghakimi dan menyalahkan, namun menemani dalam berproses di tengah rasa tak berdaya itu. Dukungan kasih di tengah kegelisahan merupakan sebuah bentuk penerimaan dan pemulihan.
Saudara, setiap diri manusia itu utuh, dan Tuhan menerima setiap orang dalam keutuhan semua aspek hidupnya itu. Tuhan tidak menganggap hina orang-orang yang sedang berjuang terseok-seok di tengah pegumulan hidupnya. Ia menemani, bagai Sahabat yang mau hadir, mendengarkan, mendukung, dan menyemangati. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita pun hadir sebagai sesama, sebagai sahabat yang tulus
mengasihi anggota keluarga kita atau siapapun yang sedang barang dengan hahan.hahan barat ii? HAM