Seorang pengemis mengeluh pada seorang guru yang bijak.
“Guru, aku iri dengan temanku. la membawa pulang lemari yang sangat besar,” ujar si pengemis seraya menunjuk ke gubuk sebelah. Guru itu menoleh, memperhatikan lemari yang ada dalam gubuk tetangganya itu.
“Lemari yang mana? Yang kecil itu?” tanya sang Guru.
“Kecil?” tanya si pengemis keheranan.
“Ya, coba kau pindahkan lemari itu ke rumah kepala desa, maka kau akan menemukan bahwa sesungguhnya itu adalah sebuah lemari yang kecil. Pindahkan lagi lemari itu ke istana Raja, maka lemari itu akan tampak makin kecil di antara perabot Raja yang besar-besar. Pindahkan lagi lemari itu dan letakkan di tengah-tengah padang rumput, di hadapan gunung yang menjulang tinggi. Maka kau tidak akan pernah lagi melihat lemari itu sebagai sebuah lemari yang besar,” ujar sang Guru. “Gubuk yang kecil,” sambung sang Guru, “membuat lemari kecil itu tampak sangat besar.
Sama seperti lemari itu, Goliat terlihat begitu besar jika dibandingkan dengan orang-orang Israel saat itu. Tetapi, Daud datang, dan melihat bahwa Goliat tidaklah begitu besar. Bukan karena Daud punya ukuran tubuh yang lebih besar dari Goliat, tetapi semata-mata hanya karena Daud tahu siapa yang menyertai dia juga segenap barisan orang Israel, yaitu Allah yang hidup yang tentu jauh lebih besar melampaui raksasa yang ada di hadapannya itu (1 Sam. 17:36-37).
Dalam menghadapi berbagai persoalan, kita pun perlu menempatkan persoalan itu di tempat yang benar. Bukan dalam pemikiran kita sendiri yang cenderung sempit, sebaliknya, dalam iman kita kepada Allah yang jauh lebih besar melampaui segala sesuatu. Dan ketika kita menyertakan Allah dalam menghadapi setiap pergumulan, itu seharusnya tidak membuat kita kemudian bersikap sembrono dan menganggap remeh. Sebaliknya, dengan penuh kehati-hatian dan strategi yang tepat, kita berani menghadapi setiap tantangan yang ada, besar maupun kecil.
Besar kecilnya masalah itu relatif. Satu yang pasti, tidak ada hal yang terlalu besar di hadapan Allah kita. (XND)