Merangkul Keragaman Dengan Kasih Kristus
Pada tanggal 3-6 September 2024 Indonesia mendapat kehormatan melalui kunjungan Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia. Banyak orang antusias mengikuti perjalanan Paus selama di Indonesia. Terlepas dari berbagai sorotan terhadapnya, baik soal moda transportasinya hingga ke jam tangannya, namun hal paling menarik dari kedatangannya adalah perjumpaannya dengan berbagai tokoh agama di Indonesia, kunjungannya ke Masjid Istiglal, dan pesan yang disampaikannya. Paus Fransiskus mengapresiasi Indonesia sebagai negara yang menerima keberagaman agama. la berharap bahwa di tengah kenyataan kebhinekaan itu, pemerintah dan warga Indonesia dapat terus memelihara kerukunan dan perdamaian, sehingga dapat menjadi contoh bagi negara-negara lain. Pesan perdamaian itulah yang terus dikumandangkannya, baik dari Vatikan maupun dalam kunjungan apostoliknya ke berbagai negara.
Hidup berdampingan secara damai dengan orang yang berbeda memang tidak mudah. Apalagi ketika isu agama telah ditumpangi dengan isu politik, menjadikan perbedaan ini menjadi sangat sensitif dan menimbulkan phobia di mana- mana. Maka butuh tekad yang bulat dan kerjasama banyak pihak agar dapat memulihkan situasi ini dan mewujudkan perdamaian di seluruh dunia. Teladanilah Yesus Kristus yang meskipun secara jasmaniah lahir dalam budaya dan agama Yahudi, namun Ia tidak bersikap fanatik dan eksklusif. Dia hadir untuk semua kalangan, merangkul semua orang, menolong dan menyelamatkan seluruh manusia. Dua kisah dalam Markus 7:24-37 membuktikan kesediaan-Nya untuk hadir bagi orang-orang non-Yahudi. Dengan sengaja Ia datang ke Tirus sehingga bisa mengusir setan dalam diri seorang anak tak dikenal. Ia juga datang ke daerah Dekapolis sehingga bisa menyembuhkan seseorang yang tuli dan gagap. Mungkin kita pemah menghadapi pengalaman tak menyenangkan dengan orang yang berbeda. Hanya kasih Kristus yang mampu menaalahkan ketakutan dalam diri kita sehinaaa kita mampu