CINTA hanya terdiri dari 5 (lima) huruf tapi kata yang satu ini sangat menggetarkan hati dan jiwa. Sebuah ungkapan berbunyi : ”Cinta itu layaknya sebuah peperangan, mudah disulut tetapi sangatlah sulit untuk dipadamkan.“ Pernikahan selalu diawali dengan Bulan Madu, setelah itu proses yang terjadi selanjutnya adalah Bulan Padhu (cekcok) yaitu “beperangan” dalam rangka penyesuaian, pendalaman pribadi dan penerimaan. Ungkapan lain berbunyi : “Cekcok kecil membahagiakan, cekcok besar membahayakan”.
Kidung Agung menggambarkan hubungan umat dan Tuhan seperti sepasang kekasih yang sedang menjalin dan memadu cinta (Kidung Agung 2:16-3:5).
“ Cinta sejati adalah hidup saling memiliki (ay.16a). Pernikahan itu “saling” bukan “silang” walaupun dua pribadi yang berbeda. Mempelai laki-laki bertanggungjawab seperti gembala domba di tengah bunga bakung, suci dan mulia. Kekasihnya selalu merindukan kapan Sang Mempelai kembali: “Kembalilah kekasihku, kita bertemu dalam pelukan malam” Gambaran keintiman hubungan kita dengan Tuhan. Cinta sejati dibawa dalam mimpi. Dalam tidur malam hari, cinta tetap bersatu hati. Ada kerinduan besar untuk selalu dekat dengan Sang Mempelai. Dicarinya sampai kepada para peronda malam namun tidak ditemukan. Dalam pernikahan kudus, Tuhan tidak perlu dicari. Tuhan tetap ada selama hidup kita dalam kasih dan kekudusan.
Cinta tidak memisahkan hubungan keluarga. Mempelai laki-laki dibawa masuk ke kamar ibunya, namun mereka tetap mempertahankan cintanya dalam kekudusan. Dalam pernikahan Kristen, hubungan dengan keluarga besar masing- masing tidak boleh terputus walaupun telah disatukan Tuhan. Cinta yang disatukan Tuhan harus tetap dipenuhiglengan kasih, ketulusan hati dan komitmen /AGP) na .
x
x