Satu minggu kejar penuhi target pekerjaan, sekarang pak Rachmad dan keluarga beribadah. Lelah dan bosan, ibadah sebagai rutinitas. Ibadah usai, ia mengajak keluarga healing untuk bergembira, ah! ternyata mobil di depan mogok. Dipanas terik pak Rachmad terpaksa bantu. Karena lama, anaknya membeli minuman untuk mereka. Akhirnya mobil berhasil diperbaiki dan kedua keluarga yang tidak saling kenal itu minum bersama. Pak Rachmad merasakan waktu yang lebih bermakna daripada healing untuk senang sesaat. Ternyata kesempatan untuk merayakan kasih dan pembebasan Tuhan melalui pekerjaan baik kepada sesama lebih bermakna. Relasi keluarga lebih hidup.
Permasalahan kita merayakan Sabat sebagai hari pembebasan adalah terjebak pada keinginan diri — kehilangan keinginan Tuhan. Bukankah saat seseorang berfokus pada keinginan diri justru akan merusak relasi dan rasa. Namun jika sebaliknya, bukankah relasi dan rasa itu akan semakin dalam dan menyenangkan. Demikian hubungan kita dengan Tuhan.
Kitab Ulangan 5:15 Tuhan ingin kita merayakan Sabat sebagai respon karya Tuhan dalam kehidupan. Mazmur 81:1, Tuhan ingin kita bersorak-sorai sebab Allah adalah kekuatan kita. 2 Korintus 4:7-8 menjelaskan sorak-sorai kekuatan Tuhan yang sudah menyertai kita. Dan akhimya dalam Markus 2:27, Allah menyediakan hari Sabat untuk manusia gunakan menjadi berkat sebagai perayaan kegembiraan atas pekerjaan Tuhan.
Jadi lupa keinginan Tuhan dan terikat pada pikiran yang berfokus pada diri sendiri merusak makna Sabat sebagai perayaan kegembiraan atas kasih dan karya Tuhan dalam keseharian hidup kita. Sejatinya Allah ingin pada Sabat umat- Nya dipenuhi syukur dan sukacita bukan dipenuhi iri hati, kepentingan diri dan kemunafikan.
Mari kita kembali berkiprah mengenali dan menghayati keinainan Tuhan atas Sabat vana Tuhan sediakan untuk kita.