Bagaikan sebuah barang yang terjatuh, seseorang harus merendah untuk menggapai barang tersebut kembali. Permasalahannya, sebelum mengambil barang tersebut, kita berpikir terlebih dahulu, apakah barang itu layak untuk kita ambil kembali atau tidak. Jika barang tersebut kurang begitu penting dan biasa saja, kita bisa saja mengambilnya menggunakan kaki. Akan tetapi, jika barang itu berharga, biasanya barulah kita merendah untuk mengambil barang tersebut dengan kedua tangan kita.

Sadar atau tidak, hal itu pula yang dilakukan Yesus dalam kelahiran-Nya di tengah dunia. Tidak hanya merendah saja, Yesus bahkan turun ke tengah dunia dari takhta-Nya yang Maha Tinggi demi menebus manusia dari jurang maut. Melalui kerendahan-Nya ini, Yesus menunjukkan kasih karunia-Nya yang begitu tidak terbatas kepada umat manusia.

Permasalahannya, manusia terkadang lupa akan esensi “kerendahan” yang telah diteladankan oleh Yesus dalam kelahiran-Nya. Mulai dari hal-hal seputar kelahiran dan kehidupan-Nya yang begitu sederhana dan penuh dengan kerendahan. Akan tetapi dalam kenyataannya, banyak sekali manusia yang tanpa ragu meninggikan diri untuk merasa lebih baik daripada orang lain. Lantas mengapa orang berusaha sebisa mungkin untuk meninggi sembari menyembah Allah-nya yang merendah? (FKD)

You May Also Like

je Iman: Obat Anti Tawar Hati 2 Korintus 4:13-5:1

Belasan tahun yang lalu, saya terjebak dalam sebuah situasi yang mengerikan. Kapal…

Dalam Badai Tuhan Bertindak adalah orang yang berbudi baik dan mempunyai kekayaan’yang sangat banyak

| il kemudian mengalami musibah yang hebat. la kehilangan semua anaknya dan…

Dari Baptisan Menuju Pengudusan

Pada minggu kedua masa adven ini, kita dibawa pada penghayatan kembali akan…

DMUNNANIG Menghidupkan Damai Sejahtera

g menghidupkan damai sejahtera menjadi amat sangat relevan yan bangsa dan negara…