Pernah dengar ungkapan “Kamu adalah apa yang kamu makan”? Ungkapan ini ingin menjelaskan bahwa kondisi tubuh tergantung dari apa saja yang kita makan. Makanan menjadi faktor penting yang menentukan bagaimana tingkat kesehatan kita dan penyakit apa yang muncul dalam tubuh, di samping tentunya gaya hidup, faktor genetik, dsb. Meskipun aktivitas kita berat, namun jika pola makan dan asupan gizinya baik, maka tubuh relatif tetap sehat, tidak mudah jatuh sakit.
Demikian pula dengan tubuh rohani kita. Asupan yang masuk dalam pikiran, akan menentukan bagaimana kondisi kesehatan jiwa kita. Jika kita terlalu banyak membaca berita tentang berbagai tindak kejahatan, perang, bencana, kecelakaan maka jiwa kita akan dipenuhi kekuatiran. Jika kita terlalu banyak berkutat dengan hal-hal sains, maka kita cenderung sangat logis dan mengesampingkan perasaan. Jika kita terlalu banyak melihat hal- hal berbau pornografi, maka pikiran dan perilaku kita cenderung tidak senonoh.
Oleh karena itulah kita mesti memperhatikan dengan serius, apa yang akan kita konsumsi bagi hidup rohani kita supaya bisa tetap sehat. Nabi Habakuk mengerti apa yang harus ia konsumsi di tengah penderitaan yang dihadapi dirinya dan bangsanya. Dalam Habakuk 2:1 ia berkata, “….. aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” Habakuk sadar bahwa hanya firman Tuhanlah yang dapat menenteramkan hatinya dan menuntunnya di jalan yang benar meskipun persoalan-persoalan hidup keras menerpa. Dengan meneladani sikap Habakuk tersebut, kiranya kita juga mau terus bersandar pada firman Tuhan di tengah segala realita kehidupan yang kita hadapi, mudah atau sukar, berat atau ringan. Dengan demikian kondisi jiwa kita akan tetap sehat, tidak mudah kuatir dan frustasi, tidak mudah tersesat, malainkan akan tatan taniih sahar dan banar dalam manaharani