“A hopeless heart is a faithless heart.” Ketika kita merasa putus asa, kita sering kali merasa seolah-olah Tuhan telah meninggalkan kita. Ketidaksetiaan ini dapat berwujud dalam perasaan putus asa, ketika kita mulai meragukan kebaikan dan kesetiaan Tuhan. Di tengah pergumulan hidup, kita sering terjebak dalam pemikiran negatif, merasa bahwa tidak ada harapan dan bahwa Tuhan tidak peduli dengan penderitaan kita.
Ratapan 3:22-23 mengingatkan kita bahwa kasih setia Tuhan tidak pemah berkesudahan, rahmat-Nya selalu baru setiap pagi. Mazmur 30 berbicara tentang bagaimana Tuhan mengubah ratapan kita menjadi tari-tarian, memulihkan dan memberikan harapan baru. 2 Korintus 8:7-15 menekankan pentingnya hidup dengan kemurahan hati, mengingatkan kita untuk tetap setia dan berbuat baik kepada sesama. Markus 5:21-43 menceritakan kisah Yesus menyembuhkan perempuan yang sakit dan membangkitkan anak perempuan Yairus, menunjukkan kuasa dan kasih Tuhan yang mengatasi segala keputusasaan.
Melalui ayat-ayat ini, kita belajar bahwa Tuhan tidak pemah meninggalkan kita, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun. Ketika kita merasa putus asa, kita diajak untuk kembali kepada Tuhan dan mengingat kesetiaan-Nya. Ratapan dan Mazmur mengajarkan kita untuk bersandar pada rahmat Tuhan yang baru setiap pagi dan mempercayai-Nya untuk mengubah kesedihan kita menjadi sukacita. Markus menunjukkan bahwa Tuhan memiliki kuasa untuk menyembuhkan dan memulihkan, mengundang kita untuk tetap setia dan percaya pada kuasa- Nya.
Mari kita lawan keputusasaan dengan mengingat kesetiaan Tuhan. Tantang diri kita untuk tetap berpegang pada iman, bersandar pada rahmat-Nya yang baru setiap hari, dan menjadi agen kasih dan kemurahan hati bagi orang lain. Dalam setiap keputusasaan, biarkan iman kita tumbuh dan menjadi saksi