(Renungan Adven Kedua – Matius 22:34–40)

Ada sebuah legenda tua dari sebuah desa pegunungan. Konon, di sana hidup dua pembuat lentera terbaik: Ardan dan Lavi. Keduanya dulunya sahabat—bekerja berdampingan, saling menolong, dan tertawa dalam perjalanan pulang. Namun suatu hari, seorang tuan kaya memesan satu lentera untuk festival besar. Ia berkata bahwa yang terbaik akan diberi penghargaan istimewa.

Sejak saat itu, api kecil kecemburuan mulai menyala. Ardan menuduh Lavi mencuri idenya. Lavi merasa Ardan merendahkannya. Ruang kerja yang dulu hangat berubah menjadi tempat dingin penuh curiga. Lentera-lentera indah tetap mereka buat, tetapi hati mereka menjadi gelap.

Malam festival tiba. Semua warga menyalakan lentera, namun angin gunung berembus kencang, memadamkan cahaya satu per satu. Hingga akhirnya, hanya dua lentera yang tersisa tetap menyala—lentera buatan Ardan dan Lavi. Keduanya berdiri terpana, menyadari sesuatu: terang tidak pernah bersaing; terang justru saling menguatkan ketika malam menjadi pekat.

Legenda itu menggaungkan kembali kata-kata Yesus (Mat. 22:34–40) : Kasihilah Tuhan… dan kasihilah sesamamu.

Di tengah iri, benci, dan persaingan, kasih adalah terang yang tidak padam. Adven kedua mengingatkan bahwa Kristus datang sebagai cahaya yang tidak memadamkan cahaya lain, tetapi menyalakan hati manusia agar kembali saling menerangi.

Dalam dunia yang mudah diselubungi curiga, Adven bertanya: “Apakah engkau mau menjadi terang bagi sesamamu?”

Kasih masih ada—dan seperti dua lentera itu, kasih akan tetap bertahan meski angin kehidupan berembus kencang. (EBWR)

You May Also Like

Ayub dan Para Sahabatnya Penghibur Sejati VS Penghibur Sialan

“Sudah jatuh terjepit eskalator”, itulah Ayub. Dirinya menderita lahir batin,  sahabat-sahabatnya datang…

Diberi Berbeda Agar Saling Memperlengkapi

Efesus 4:1-16   Kelima jari yang kita miliki, memiliki nama, bentuk, dan…

Berbela Rasa Pada Semua

Berbela rasa adalah sebentuk sikap yang digerakkan oleh empati, turut merasakan pergumulan…