Saya rasa banyak orang setuju bahwa hal tersulit dalam hidup ini adalah mengampuni. Padahal firman Tuhan tegas bicara kepada kita, “Maka Bapa-Ku yang di Sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Matius 18:35). Suatu pernyataan yang dikeluarkan Yesus pada saat memberikan perumpamaan tentang seorang hamba yang diampuni hutangnya oleh sang tuan, namun dia sendiri tidak mau mengampuni sesama hamba yang berhutang kepadanya. Jika kita masih sulit untuk mengampuni, maka ada baiknya kita memeriksa diri dengan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
1. Apakah saya merasa posisi saya lebih tinggi daripadanya (lebih tua, lebih senior, lebih tinggi kedudukannya, lebih hebat, dsb) sehingga saya berhak untuk menghukum dia dan berhak tidak memberi pengampunan?
2. Apakah saya berpikir bahwa jika saya mengampuninya, maka dia akan terus melakukan perbuatan buruk terhadap saya?
3. Apakah saya lebih suka menyimpan sakit hati sampai mati ketimbang menyelesaikannya dan menjalani hidup dalam damai sejahtera Allah?
4. Apakah saya merasa diri saya sudah sempurna, tidak pernah salah dan tidak butuh pengampunan, sehingga saya pun enggan untuk memberi pengampunan?
5. Apakah saya ragu-ragu/kurang percaya bahwa Tuhan sanggup membela saya dan tetap menyatakan kebaikan-Nya kepada saya meskipun saya diperlakukan buruk oleh orang lain – sehingga saya merasa perlu membela diri sendiri dengan terus menyimpan dendam dan bahkan balas dendam terhadapnya?
6. Apakah saya orang yang tinggi hati sehingga sulit menerima firman Tuhan yang jelas-jelas memerintahkan agar kita bersedia mengampuni orang yang bersalah?
7. Apakah saya lebih memilih untuk tidak diampuni Tuhan dan tidak berada dalam kemuliaan di Surga daripada saya harus mengampuni dia?
Jika jawaban Anda semuanya adalah “tidak”, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk menunda mengampuni. Jika ada satu saja jawaban “ya”, maka segeralah datang kepada Tuhan untuk mohon anugerah-Nya agar Anda dimampukan untuk mengampuni. Mengapa? Sebab satu-satunya cara untuk sembuh dari sakit hati adalah dengan melepaskan pengampunan; bukan dengan menyimpan atau balas dendam. (RKG)

You May Also Like

Pemberita Injil Membawa Berkat

Kata INJIL bagi orang Kristen bukan lagi menjadi kata yang asing, bahkan…

Siapa Mencintai Nyawa akan Kehilangan Nyawanya

“Ku tahu yang ku mau” demikian slogan/semboyan sebuah iklan merek minuman bersoda.…

Teruslah Berbuat Baik, Jangan Gentar!

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud…

Membuang Akar Kepahitan

Efesus 4:25-5:2   Pernahkah saudara mengalami pedihnya difitnah, atau merasakan kekecewaan yang…