Pernahkah Saudara merasa kehilangan sukacita untuk sesuatu yang pada masa yang lalu Saudara bersukacita atasnya? Salah satu masa yang terkadang membuat sukacita seseorang pudar adalah masa penantian. Dalam banyak hal, orang menanti dengan sukacita: menanti keberhasilan dari pekerjaan yang baru, menanti kesembuhan, menanti pulihnya relasi antar anggota keluarga, menanti seseorang menepati janjinya, dan sebagainya. Namun, ketika penantian itu diperhadapkan dengan “Tuang tunggu” yang lama, tak jarang sukacita itu memudar. Ketika perjuangan terus dilakukan dalam kejujuran, namun bukan keuntungan yang diraih, melainkan modal usaha yang justru semakin habis. Ketika pengobatan dilakukan dengan tekun, namun badan semakin lemah untuk berjuang. Ketika relasi yang hampa bukannya semakin pulih, melainkan semakin retak hingga tak lagi ada komunikasi. Ketika orang yang berjanji pada kita tak kunjung menepati janjinya, malah justru menghilang dan tak bisa dihubungi. Di saat-saat seperti itu, bisakah kita melanjutkan penantian dengan sukacita? Demikian pula dalam menantikan kedatangan Tuhan. Paulus mendapati bahwa semangat jemaat di Tesalonika mulai pudar saat mereka tidak kunjung mengalami kedatangan Tuhan. Mereka tidak tahu kapan Tuhan akan datang kembali. Sukacita dan semangat mereka mulai luntur dalam keraguan. Di saat seperti itulah nasihat Paulus ini diberikan kepada mereka: “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (I Tesalonika 5:16-18). Sukacita adalah unsur yang tidak boleh hilang dalam masa penantian. Dengan sukacita, kita dapat melakukan banyak hal yang baik tanpa mengeluh, melainkan dengan disertai doa dan ucapan syukur. Dengan sukacita, masa penantian tidak menjadi masa tunggu yang pasif — melainkan masa yang diisi dengan banyak karya yang menjadi berkat.
Minggu Adven ketiga disebut sebagai Minggu Sukacita. Masihkah ada sukacita di hati Saudara dalam melakukan
mama lia ban maba ar Ce aa anna ta