Hidup adalah perjalanan dan setiap tapak adalah momen dalam kehidupan di mana langkah-langkah yang berlalu mengarah pada satu tujuan yang dirancangkan oleh Sang Pencipta kepada ciptaanNya. Tidak semua orang menyadari akan hal ini, sehingga momen-momen penting yang terjadi dalam hidup kadang terabaikan begitu saja tanpa makna. Inilah yang terjadi dengan Yunus, manakala Tuhan mengutus dia ke Niniwe namun ia justru melarikan diri ke Tarsis. Dan ketika Tuhan “membawa” dia kembali ke Tarsis melalui perut ikan, baru ia taat menuju Tarsis.
Namun ketaatan Yunus ke Tarsis bukan sebuah momentum yang membawa perubahan dan makna. Tugas memberitakan kabar pertobatan dan penghakiman serta penghancuran tidak dilihat sebagai proses kasih sayang Allah dalam upaya menyelamatkan umat ciptaanNya. Ketika berita pertobatan itu direspon dengan baik oleh masyarakat Niniwe, Allah membatalkan rencana penghukuman dan penghancuran Niniwe. Momen “perdamaian” antara Allah dan rakyat Niniwe menjadi momentum yang indah bagi perubahan masyarakat Niniwe yang takut dan menghormati Allah serta momentum Allah yang menunjukkan kasih sayang Allah yang mengasihi dan menyelamatkan umatNya.
Yunus marah, ia ingin Allah tetap menghukum dan menghancurkan kota Niniwe sesuai dengan janjiNya. Kembali Yunus melewatkan momen keindahan dalam kehidupan di mana Allah begitu sayang pada umatNya dan memilih untuk melihat perubahan ke arah kebaikan di mana umat semakin mengenal dan dekat dengan Allah dan merasakan relasi cinta yang terjalin dalam kehidupan. Yunus hanya fokus pada dirinya sendiri sehingga gagal menangkap momen karya Allah dalam kehidupan, betapa Allah begitu mengasihi manusia. Dengan demikian momentum kasih sayang Allah ini kembali terlewatkan dalam kehidupan Yunus. Akankah kita juga seperti Yunus yang terlalu fokus pada diri sendiri sehingga banyak tapak-tapak