Hari ini kita memasuki Minggu Adven (yang berasal dari kata Latin Adventus, artinya: kedatangan). Kita memaknai Adven sebagai masa penantian akan kedatangan Kristus yang sudah, sedang, dan akan datang kembali. la sudah datang dua ribu tahun yang lalu sebagai manusia, Ia ada bersama kita saat ini, dan Ia akan datang dalam kemuliaan-Nya sebagai Hakim yang Agung di hari penghakiman kelak. Dalam Minggu- minggu Adven, beberapa lagu dengan kata “Haleluya” kita ganti menjadi “Maranatha”, yang berarti “Tuhan, datanglah segera”. Adven telah kita rayakan tahun demi tahun. Namun demikian, apakah kita benar-benar menyadari maknanya? Dengan mengucapkan “Maranatha”, apakah kita benar-benar merindukan kedatangan Kristus?
Dalam bacaan pertama hari ini, melalui Yesaya, umat diingatkan betapa gemetamya manusia jika Allah turun ke bumi. Gemetar dan ketakutan, bukanlah sikap siap menyambut kedatangan Tuhan. Itulah yang terjadi pada umat yang hidup dalam pemberontakan kepada Tuhan. Kedatangan Tuhan dilihat sebagai bencana besar untuk mereka. Sebaliknya, dalam bacaan kedua hari ini rasul Paulus menunjukkan sikap siap untuk menyambut kedatangan Tuhan. Kuncinya adalah hidup di dalam Dia (ayat 5). Hidup di dalam Kristus, berarti mengasihi Dia, meneladani Dia, dan mengabdikan hidup ini menjadi saksi- Nya. Dalam tekad yang kuat untuk hidup dalam Kristus, umat akan dibentuk dari waktu ke waktu, hingga didapati tak bercela saat kedatangan Kristus kembali.
Sikap manakah yang kita hidupi sampai hari ini, terkait penantian kita akan kedatangan Kristus? Apakah kita seperti umat Israel yang sering memberontak kepada Tuhan, hingga melihat kedatangan-Nya sebagai hal yang mengerikan? Ataukah kita seperti yang diungkapkan Paulus, telah hidup di dalam Dia, dan kita siap untuk Ia dapati setia? Mari kita masuki masa Adven ini dengan kesiapan hati, dengan pengharapan dan penyerahan diri untuk Tuhan bentuk kita menjadi semakin