Ini kisah Corrie ten Boom, seorang wanita Belanda yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi selama Perang Dunia II. Ia adalah seorang Kristen yang aktif membantu orang-orang Yahudi melarikan diri dari kekejaman Nazi. Namun, pada tanggal 28 Februari 1944 seorang informan Belanda mengkhianati tempat persembunyian mereka. Karenanya ia dan keluarganya ditangkap dan dikirim ke kamp konsentrasi. Corrie dan keluarganya dikirim ke penjara Scheveningen.
Di sana, ia mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kehilangan ayah dan saudaranya. Tanggal 30 Desember 1944 Corrie dibebaskan dari kamp konsentrasi yang ternyata karena kesalahan administrasi. Kemudian ia mengetahui bahwa semua perempuan di baraknya dieksekusi seminggu setelah ia dibebaskan.
Setelah perang berakhir, ia menjadi pembicara yang menyebarkan pesan kasih dan pengampunan Kristus. Suatu hari, ia bertemu dengan salah satu sipir Nazi yang dulu menyiksa dirinya dan saudaranya di kamp konsentrasi. Sipir itu meminta maaf dan memohon pengampunan dari Corrie. Corrie merasa sangat sulit untuk mengampuni orang yang telah menyebabkan penderitaan dan kematian bagi keluarganya. Namun, ia ingat bahwa Yesus telah mengampuni dosa-dosanya yang tak terhitung banyaknya di kayu salib. Ia pun mengulurkan tangannya dan mengampuni sipir itu dengan tulus.
Hidup ini memberikan begitu banyak alasan untuk membenci, menghakimi dan tidak mengampuni sehingga relasi dengan sesama terputus. Kita tahu bahwa hidup relasi dengan sesama sering diwarnai situasi melukai dan dilukai. Namun bercermin Mazmur 103:8-13 kita diingatkan tentang Allah telah mengampuni dan menyanyangi kita terlebih dulu. Pengalaman dan pemahaman iman tentang Allah ini menyadarkan seorang bernama Corrie untuk melawan dan mengalahkan amarah, dendam dan sakit hati.
Kesadaran bahwa Allah mengampuni dan menyayangi diri kita, orang berdosa ini dan penuh kelemahan tampaknya menjadi daya dorong kita untuk dapat mengampuni tanpa batas ini. Mari kita berani dan mau mengampuni atas kesalahan orang lain