Hasrat adalah sebuah keinginan yang tersembunyi di dalam hati. Meskipun tersembunyi di dalam lubuk hati yang terdalam bukan berarti apa yang tersembunyi itu tidak dapat diketahui oleh orang lain, karena pada akhimya sebuah hasrat atau keinginan itu terungkap dalam tindakan, sikap dan perilaku yang muncul meskipun tidak diperkatakan. Hasrat bisa menjadi hal yang positif maupun negatif, bergantung dari motif yang ada dibelakangnya. Sikap dari para ahli Taurat bisa menjadi contoh dari hasrat yang tersembunyi itu seperti yang dikatakan oleh Yesus: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui orang dengan doa yang panjang-panjang…… ” Inilah hasrat yang negatif di mana Yesus mengkritik para ahli Taurat atas kemunafikan dan kesombongan mereka. Mereka mencari status sosial dan penghormatan dari orang-orang melalui jubah panjang, tempat kehormatan, dan doa panjang, tetapi perilaku mereka tidak mencerminkan kebenaran sejati.
Sebaliknya hasrat yang positif Yesus contohkan pada momen janda miskin yang memberikan persembahannya. Mengapa? Karena janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. Yesus memuji janda ini bukan karena jumlah uangnya, melainkan karena pengorbanan dan ketulusannya. Orang-orang kaya memberi dari kelimpahan, yang artinya tidak berdampak banyak pada kehidupan mereka. Sebaliknya, janda ini memberi dari keterbatasan dan kekurangannya, bahkan memberikan “seluruh nafkahnya.” Tindakan ini menunjukkan iman dan ketergantungan penuh kepada Allah, karena janda ini mempersembahkan seluruh miliknya dengan keyakinan bahwa Allah akan memelihara dia. Apa yang ada dalam hati seperti keinginan, menjadi motivasi yang kuat bagi seseorang. Dan ketulusan atau penghormatan