Semua orang senang dengan hal-hal yang luar biasa. Entah dalam arti keluar dari pola yang biasanya berulang terjadi, atau mengalami sesuatu yang spektakuler. Tetapi ada paradoks yang menarik dari hal “luar biasa” ini, yaitu: tidak akan ada yang “luar biasa” tanpa yang “biasa”. Dalam bacaan Alkitab kita hari ini, Lukas 5:1-11, mana yang “biasa” dan mana yang “luar biasa”? Yang biasa adalah sebagai nelayan mereka menjala ikan di Danau Genesaret. Yang biasa adalah sebagai nelayan, tentu ada saat di mana mereka tidak mendapat apa-apa. Yang luar biasa ialah, seorang guru Yahudi datang, menyuruh mereka menebarkan jala kembali sehingga mereka mendapat ikan dalam jumlah besar. Yang luar biasa ialah, kini mereka diundang untuk menjadi “penjala manusia”. Tetapi, sesudah mereka menjadi murid Yesus sekian lama, akankah semua ini menjadi perkara yang biasa?
Pada akhirnya kita menyadari, tidak masalah menjalani sesuatu yang biasa. Karena ternyata undangan Kristus datang ketika para murid-Nya setia mengerjakan pekerjaan mereka yang “biasa” itu. Karena hidup sebagai murid Kristus juga kelak menjadi hidup sehari-hari yang “biasa” mereka lakukan. Tetapi, Kristus yang hadir, menjumpai kita, memperlengkapi kita, dan mengutus kita, itulah yang selalu menjadi hal yang “luar biasa” buat kita. Karena siapakah kita, sehingga kita dipercayakan semua hal ini? Hanya karena Tuhan, dan karena itu kita kembalikan bagi Tuhan, segala yang “luar biasa” yang kita terima dan dapat kita
lal eaa AIA