Hidup yang Berdampak
Garam di zaman Yesus adalah salah satu bahan pokok dalam perekonomian Yahudi. Garam digunakan untuk pemberi rasa pada makanan dan juga dalam korban-korban persembahan. Garam juga adalah bahan utama dalam pengawetan makanan sehingga menjadi lambang kesetiaan dan kelanggengan. Karena itu pulalah garam dalam masyarakat Timur digunakan untuk mensahkan perjanjian. Dalam Imamat 2:13 korban sajian dibubuhi dengan garam sebagai tanda langgengnya ‘perjanjian garam’ antara Allah dan Israel. Sedangkan terang adalah lambang kebaikan dan kebenaran. Terang sejak zaman dahulu kala menandakan kehadiran dan kasih Allah. Terang adalah lambang kebaikan dan kekudusan Allah.
Yesus dalam khotbahnya di atas bukit menyebut para muridnya dengan garam dan terang dunia. Murid-muridnya itu bukanlah tergolong orang-orang terbaik di kala itu. Mereka adalah orang- orang pinggiran, miskin dan tak berpendidikan. Mereka juga adalah kelompok yang lahir dari hasil perkawinan campur. Karena itulah mereka dianggap sebagai kelompok yang tidak murni, tidak dikenan Tuhan dan najis. Predikat yang mereka sandang itu membuat mereka merasa sangat inferior dalam segala hal, merasa tak berharga dan tersisihkan, baik di hadapan bangsa lain maupun di hadapan Tuhan.
Tapi Yesus memandang mereka dan menyebutnya garam dan terang. Artinya bahwa Yesus memandang mereka sangat berharga. Mereka adalah lambang perjanjian kesetiaan dan kelanggengan Allah. Tak hanya itu mereka adalah lambang kebaikan dan kebenaran Allah. Karena itulah mereka diajak agar tidak merasa inferior, tidak rendah diri dan merasa tak berharga. Sebaliknya mereka harus hidup bermanfaat, menjadi ‘pengawet kebaikan dan kesetiaan sebagai simbol kehadiran Allah di tengah- tengah dunia. Hal yang sama disampaikan dan ditugaskan kepada kita sebagai murid Kristus. Renungkanlah!
PRB