Kita pasti pernah mendengar istillah “Open house.” Bagi beberapa orang, kegiatan open house adalah kegiatan yang menyenangkan, karena mereka bisa membuka rumah mereka untuk dikunjungi dan bercakap-cakap pada acara tersebut. Namun tidak semua orang bersedia membuka rumah mereka untuk dikunjungi. Tentu ada berbagai alasan, salah satunya karena merasa rumah mereka belum cukup baik, cukup layak, cukup bersih, dst.

Menariknya, open house sedikit mirip dengan konsep mengasihi sesama. Sama seperti membuka rumah kita, mengasihi sesama juga berarti membuka diri kita. Diri yang rentan, terbatas dan berdosa. Dalam mengasihi sesama kita perlu menjadi autentik (asli, tanpa kepalsuan) dan tentu saja ini bukan perkara yang mudah. Dengan menjadi autentik kita membuka diri agar orang lain bisa mengenal kita lebih dalam dan bisa saja di sana kita menjadi terluka. Dengan kata lain, mengasihi sesama berarti membuka diri kita untuk siap dilukai.

Dan itulah yang dilakukan Yesus kepada umat manusia. la hadir ke dunia secara otentik, terbuka bagi orang masyarakat kecil, anak-anak, penyakit masyarakat, dst. Ia membuka diri-Nya untuk dilukai. Bahkan dengan tangan yang terbuka Ia menerima luka tusukan tombak di kayu salib. Lalu bagaimana dengan kita?

(AK)

You May Also Like

PAK . (49) 0410070 mail : gkipeterongan@gmail.com Vebsite : www.gkipeterongan.org Dalam Pergumulan Ada Penyertaan Tuhan

sudah sangat modem ini, dimana ilmu pengetahuan berkembang dengan sih banyak juga…

Si Menyambut Dengan Keramahan

Melayani Dengan Kesungguhan Hospitality (keramahan) dalam dunia perbankan memiliki peranan penting bagi…

PAK . (49) 0410070 mail : gkipeterongan@gmail.com Vebsite : www.gkipeterongan.org Yesus : Juruselamat

sudah mulai terasa dinamika pesta demokrasi, di mana kita semua ses pemilihan…