ran. Saat ia mengemudikan mobil, terjadi kecelakaan. Sebuah berlawanan, menerebas garis tengah, memaksanya belok ke Ik tiang telepon. Pacarnya tewas. Berbulan-bulan rasa bersalah nginya pendeta dan psikolog untuk mohon bimbingan, namun mpat-tempat hiburan pun hanya membuatnya lupa sejenak. Saat dan bertanya, “Sudahkah kamu mengucap syukur atas kejadian pir tak percaya. “Bagaimana mungkin aku bersyukur atas tragedi lau begitu, kamu tidak sepenuhnya mempercayakan diri kepada gerti, namun akhirnya berdoa: “Tuhan, walau tidak mengerti, aku yakan diri: bersyukur kepada-Mu’. Itulah pertama kalinya ia dapat mendamaikan hatinya.
meneror kehidupan manusia. Kadang kita memendamnya, diri, atau “lari’ menghindar, namun kegelisahan tetap mengejar. i. Ia lari dari Esau karena takut dibunuh. Ia lari dari Laban karena n curang. Hingga berniat pulang, ketakutan masih menghantui. gok’ Esau dengan banyak hadiah. Dicobanya bersembunyi di balik ari jika Esau menyerang. Lantas ia berjumpa dengan ‘seseorang” ya semalam-malaman. Pangkal pahanya dipukul hingga pincang. Disitu Yakub melihat wajah Allah, dan itu menolongnya melihat ik lagi melarikan diri dari masalah. la menghadapinya dengan Ia diajar memiliki citra diri positif. Namanya diganti dari “Yakub” 1″ (yang bergumul dengan Tuhan dan menang). Ia tidak takut up. Lagipula, Esau ternyata tak segarang yang dibayangkan .mukamu bagiku serasa melihat wajah Allah’.
ygan Esau berawal dari pergumulannya dengan Allah. Sesudah lah, Yakub bisa berdamai dengan dirinya. Itu mendorongnya ama. Ketika orang bisa “melihat wajah Tuhan,” ia pun bisa benar. Anda juga bisa ‘kan? – PRB