‘g kita merasa-menyerah dalam menghadapi masalah hidup? lah oleh keadaan yang menurut kita buruk? Kadangkala kita ng kita alami sangat berat, entah itu karena ditinggalkan orang ati orang yang kita percaya, dipojokkan oleh lingkungan sosial an lainnya. Akan tetapi, seberapa besarkah penderitaan atau kita itu jika dibandingkan dengan Yesus, yang tidak berdosa, can kita, yang justru diserahkan oleh orang-orang yang sangat
in Injil kita hari ini, dikisahkan ketika Yesus berada di pengadilan s. Kalau kita perhatikan, saat itu Yesus seperti dipojokkan oleh eh semua orang yang menyerahkan-Nya. Namun, apa yang ah marah atau menyerah, tetapi tetap tegar di dalam situasi »garan Yesus itu, la tetap percaya bahwa itu semua adalah
ighadapi masalah di dalam hidup kita, apa yang kita lakukan? seluruh kekuatan kita untuk menyelesaikannya? Ataukah kita berserah pada penyertaan Allah? Dalam bacaan 2 Samuel nyaksikan penyertaan Allah, ketika ia menghadapi berbagai yya. Pengalaman Daud ini mengingatkan kita bahwa penyertaan lepas dari umat yang percaya dan taat kepada-Nya. Bukankah ulus bahwa Allah tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi s 10:13)? Oleh sebab itu, masih perlukah kita menyerah atau g menurut kita buruk? Tidak. Kita harus tetap tegar dan percaya ak kita dan akan ada jalan keluar yang Ia berikan. Seorang mengatakan “Life isn’t about waiting for the storm to pass. It’s in the rain.” Hidup bukan untuk menunggu masalah-masalah
ya, tetapi belajar dan menikmati “tarian” di dalam masalah MEA NAN