Kringgg!! Telepon pertama masuk.
Tuhan angkat, “Halo?”
“Halo? Wah, saya bisa dengar Tuhan menyapa!
Langsung saja ya Tuhan,
Saya ingin ini dan itu lengkap dengan itu dan ininya,
Saya mau naik pangkat, naik gaji, naik segalanya
seperti janji-Mu, terus naik dan bukan turun.
Tolong jangan buat saya susah, ya Tuhan,
Berikan saya hidup tenang, hidup kenyang, itu saja.
… eh kok Tuhan diam?
Sama seperti di jalur doa, Tuhan nggak ngomong apa-apa.”
“Ya, karena selama ini kamu tidak bertanya,” jawab Tuhan. “Bertanyalah, Aku pasti menjawab.”
“Oh begitu, kalau begitu aku mau tanya: apakah dia jodohku, Tuhan? Kalau jodoh kok hubungan kami sulit dijalani?”
“Ya, sulit karena tidak semua berjalan sesuai pikirmu, kan?
Lagipula setiap hubungan pasti ada tantangan, itulah hidup.”
“Kok begitu, Tuhan? Apa nggak bisa jalan kami mulus-mulus saja?” “Yang mulus belum tentu selamat, yang terlihat lurus bisa ujungnya maut.”
“Kok serem, Tuhan? Ini Tuhan atau Al yang jawab?”
Dalam kesabaran tiada tara Tuhan menjawab,
“Justru karena Aku Tuhan yang Hidup,
maka Aku bisa menjawab yang berbeda dari yang kamu pikirkan. Sebaliknya, apa kamu betul-betul hidup, seperti Aku?
Kok, jawabanmu untuk semua masalah selalu sama:
putus asa, putus relasi, berhenti bergumul, berhenti beriman?”
Sebuah dialog imajiner dirangkai dalam puisi yang saya beri judul “Telepon Surga” menolong kita untuk bercermin dan berefleksi tentang dua hal. Apakah kita percaya Allah itu hidup? Apakah kita pun menunjukkan tanda-tanda kehidupan: berani berjuang, berani berubah, serta menentukan pilihan bebas dalam merespons segala sesuatu dalam hidup ini? Mari kita sunaauh-sunaauh hiduo. seperti