Kebenaran dalam bahasa Yunani disebut dikaiosune. Dikaiosune bermakna apa yang dituntut Allah, kebenaran yang dianugerahkan Allah, kewajiban agama atau kedermawanan. Selain itu kebenaran dapat pula dimaknai sebagai pengetahuan yang tepat, yang terpercaya dan yang harus ditaati. Dalam perspektif Ibrani yang dimaksud kebenaran adalah kenyataan terbukti atau tidak salah. Karena itulah kebenaran digunakan untuk menyatakan seorang raja yang baik atau sekutu yang handal atau tetangga yang terpercaya. Allah disebut benar/kebenaran karena Ia setia pada perjanjian-Nya.
Kebenaran secara evolusi berlawanan dengan sifat alamiah manusia yang suka berbohong. Berbohong dalam sejarah manusia dilakukan agar bisa bekerja sama, namun di hadapan Allah kebohongan itu adalah dosa. Itulah sebabnya kebenaran seringkali ditolak dan diabaikan keberadaannya. Tak hanya itu mereka yang menyuarakannya acapkali harus menelan pil pahit penderitaan seperti yang dialami Yohanes Pembaptis nabi Tuhan yang pemberani.
Orang-orang yang percaya kepada Kristus disebut orang benar karena Kristus adalah Allah, dan kebenaran hanya ada pada Allah. Jadi siapa pun yang mengaku memercayai Allah akan hidup dalam kebenaran, yang artinya harus siap sedia menelan pil pahit kebenaran. Meski demikian Allah berjanji tak akan meninggalkan dan membiarkannya, seperti Firman-Nya, “Aku sekali- kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”. (PRB)