Saudara tentu senang dan bangga ketika memiliki sebuah gedung gereja yang besar dengan berbagai macam fasilitas yang membuat nyaman pada saat beribadah. Saudara tentunya juga senang dan bangga dengan gedung gereja yang memiliki desain arsitektur yang megah dan unik. Namun dalam kebanggaan tersebut, apakah saudara juga tetap merasa nyaman apabila suasana di dalam gereja tidak saling memperhatikan, satu dengan yang lainnya hanya saling menyalahkan dan menghakimi, bahkan tidak ada kasih di dalamnya. Tentu saudara akan merasakan jengah karena suasana yang ada di dalamnya tidak seindah dan semegah penampakan gedungnya.
Situasi kontras inilah yang juga ingin diperlihatkan si penulis injil Markus bahwa para petinggi-petinggi yang ada di dalam Bait Allah, moral spiritualnya rusak (Mrk 11:17). Bagaimana mereka mengadakan kesepakatan-kesepakatan di pelataran Bait Allah, dan juga bagaimana mereka menelan rumah-rumah janda miskin (Mrk 12:38-40). Itulah kondisi bagian dalam dari Bait Allah yang sedang tidak baik-baik saja. Bangunan Bait Allah yang nampak dari luar begitu kokoh, indah dan megah, ternyata bagian dalamnya bobrok dan rusak. Pernyataan kekaguman seorang murid mengenai kemegahan bait Allah itu bagi Yesus tidak berarti apa-apa karena kondisi dalam dari Bait Allah itu sendiri. Bait Allah tidak lagi dilihat sebagai rumah Allah, di mana hormat kemuliaan Allah dinyatakan dalam keadilan dan kesetiaan, tetapi menjadi bangunan yang besar dan megah yang menyembunyikan kebobrokan pemimpin yang ada di dalamnya. Bangunan besar dan kuat itu kelak tidak akan bertahan lama karena akan runtuh dari dalam dan diruntuhkan dari luar. Di tengah-tengah runtuhnya kemegahan bait Allah manusia, kemuliaan Allah akan dinyatakan bagi kehidupan orang percaya. (JS)