Semut, merupakan serangga kecil yang giat dalam mengumpulkan makanan dalam gudang persediaan mereka. Insting mereka peka terhadap bahan makanan tertentu. Segera setelah menemukannya, mereka pun tidak ragu mencari teman untuk mengangkatnya bersama menuju gudang mereka. Entah seberapa besar gudang mereka, tetapi mereka selalu menyediakan makanan mereka. Mereka tidak secara egois memakan makanan itu sendirian, tetapi menjadi konsumsi bersama. Perjamuan kasih yang dikerjakan bersama untuk kepentingan bersama. Inilah salah satu pelajaran yang dapat kita maknai ketika melihat semut. Alkitab mencatat mereka adalah bangsa yang tidak kuat, tetapi rajin bekerja (Ams. 30:25).
Lalu bagaimana dengan manusia? Kita yang diberikan akal budi, talenta, dan hati nurani bahkan diminta untuk belajar kepada semut yang giat dalam bekerja (Ams. 6:6- 11). Hal ini tentu bukan tanpa alasan! Pemazmur melihat ada sebuah kecenderungan di antara pembacanya yang lebih memilih untuk hidup santai dan bermalas-malasan. Kemalasan menjadi dosa yang sangat berbahaya. Oleh sebab itu, kita diundang untuk kembali giat bekerja bukan sekadar untuk diri sendiri dan sesama, melainkan juga untuk Tuhan! Jangan berhenti terpukau pada semut merah yang berbaris di dinding, tetapi lebih kagumlah pada Allah yang juga turut bekerja hingga hari ini demi hidup umat manusia. (AK)