Tradisi Yahudi masa Israel Kuno menganggap anak sebagai hadiah yang berharga. Memiliki banyak anak adalah dambaan orang tua Yahudi, karena itu pemikahan seringkali disertai harapan bahwa pasangan semoga diberkati dengan banyak anak. Karena itu pasangan yang tidak memiliki anak, dianggap sebagai aib dan tidak diberkati Tuhan
Di Roma pada zaman pemerintahan Kaisar Agustus yang bertepatan dengan zaman Yesus, anak-anak dibeli di pasar budak untuk menjadi peliharaan orang dewasa guna menghibur mereka pada hari pesta. Kaisar Agustus sendiri tidak menginginkan anak dari cucunya yang bemama Julia. Di sekolah-sekolah Romawi di mana anak-anak dididik pada masa itu terjadi perlakuan biadab kepada anak-anak melalui hukuman cambuk. Itulah sebabnya Yesus dalam beberapa kesempatan menunjukkan sikap-Nya yang berbeda terhada anak- anak. Yesus berkata, Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan menghalang-halangi mereka…” Dalam bacaan kita hari ini Yesus menampilkan seorang anak di hadapan publik yang menyediakan roti dan ikan bagi orang -orang dewasa.
Dalam beberapa kesempatan Yesus juga menyebut diriNya sebagai Anak manusia dan pengikut-pengikut- Nya disebut sebagai anak-anak Allah. Sikap Yesus yang mendemonstrasikan kecintaan dan memberdayaannya terhadap anak-anak di depan umum merupakan wujud kecintaan dan penghargaan-Nya terhadap kelompok yang terabaikan dan terdiskriminasi. Namun bisa jadi hal itujuga merupakan kritik sosial-Nya terhadap Pemerintah Romawi yang merendahkan dan menindas anak-anak.