Walau aku bukan kue atau roti
dan bukan jajanan pasar yang dijejer dijaja Satu per satu per satu per satu
datang mencobai
Mulanya Kemiskinan datang
menjajal seberapa kuat mulut ini terkatup tidak mengumpat dan tidak mengutuk Yang Di Atas
kala kucuran-Nya tak terasa oleh yang di bawah
Tak lama Kekayaan menghampiri
icip-icip keteguhan diri yang pelan-pelan bergeser memberi ruang bagi Si Angkuh yang tangguh merombak-robek standar moral-moril
Lalu Kekuasaan mendekat
mencecap integritas sampai di tapal batas menawarkan tahta pantang lengser dengan janji pantang ditepati
Dan yang lain menyelak
Susah dan senang berebut mencobai Khalik mendelik insan hampir pingsan Tangan-Nya menyentuh kaki menguatkan lutut supaya tak bertelut: diri berani berdiri meski sendiri dicobai Tuhan sayang
Aku tenang
Kami menang
Sebuah puisi yang mengajak kita untuk berefleksi tentang realita kehidupan kala pencobaan datang silih berganti. Bersama Tuhan yang mengasihi kita, kita dapat tetap kuat, dan berani, dan mengatasi semua pencobaan yang ada. Semangat. (CPH)