Saudara tipe orang yang suka ikut arus atau punya pendirian?
Ikut arus bukan hanya soal mengambil keputusan di antara beberapa
pilihan. Bukan juga sekedar menentukan sesuatu terkait hidup orang
lain. Tetapi hal ini juga mengenai bagaimana kita mengambil keputusan
tentang hidup kita; tentang karakter seperti apa yang ingin kita
kembangkan, kebiasaan apa yang ingin kita bangun, dan perbuatan
apa yang ingin kita lakukan. Sering kali tanpa kita sadari, karakter,
sikap, dan perbuatan yang kita lakukan mudah terpengaruh oleh arus,
meskipun mungkin sebenarnya kita tidak ingin demikian. Misalnya,
ketika banyak orang di sekitar kita menghina dan merendahkan, kira-
kira kita akan menjadi orang seperti apa? Kecenderungannya kita
akan menjadi orang yang minder, merasa tidak dikasihi, larut dalam
sedih, dan akhirnya hancur. Tetapi bagaimana ketika banyak orang
menyanjung dan mengidolakan kita? Ada kecenderungan kita akan
jadi orang yang sombong, narsis, dan mudah meremehkan orang
lain.
Artinya, tanpa sadar kita membiarkan karakter kita dibentuk oleh
perilaku orang lain. Berbeda halnya dengan Tuhan Yesus. Pada saat
orang banyak memuja-Nya dan memperlakukan-Nya bak seorang
raja, Yesus tidak terbuai dengan pujian tersebut (Mat 21:8-11). Dengan
rendah hati, Ia tetap mengingat dan taat pada misi yang diberikan oleh
Bapa yakni untuk mati disalib demi menebus manusia berdosa (Filipi
2:5-8). Sebaliknya, ketika Ia dikhianati, difitnah, dan diperlakukan bak
hewan liar, Yesus tidak berubah menjadi pribadi yang pendendam.
Kepribadian dan pendirian-Nya tetap teguh. Ia tetap menjadi Pribadi
yang penuh kasih, baik saat menerima dukungan maupun saat
ditinggalkan.
Minggu Palma merupakan momen yang penuh kekontrasan
antara pujian dan hujatan, antara kemegahan dan penderitaan.
Namun Yesus dapat berdiri teguh diantara kekontrasan tersebut.
Biarlah kita dapat meneladani keteguhan hati Yesus ini sehingga
kita dapat membangun karakter dan perilaku sesuai dengan ajaran
Kristus; bukan karena apa yang dilakukan orang lain terhadap kita