Dalam berbagai moment perayaan, kita sering mendapati pemakaian kembang api untuk menyemarakkan suasana. Sekalipun telah ada larangan penggunaan terkait bahaya yang dapat ditimbulkan, selain juga sampah yang berpotensi mencemari lingkungan, masih saja banyak orang menyalakan kembang api dan mengagumi pesonanya. Kembang api bisa menyala dengan warna yang semarak di langit malam, namun tak lama kemudian padam dalam gelap. Nyala indah yang sesaat itu juga mirip dengan harapan hidup banyak orang, yang indah namun hanya bertahan sebentar, mudah padam dalam gelapnya persoalan kehidupan.

Dukacita karena berpisah dengan seorang yang sangat kita kasihi dapat menjadi salah satu penyebab padamnya harapan. Bukan semata-mata karena perpisahan itu, melainkan juga karena ada mimpi-mimpi yang masih ingin diraih bersama, ada rasa rindu yang tak lagi dapat disampaikan, dan ada ruang kosong yang tercipta di tengah derai air mata. Terasa berat dan menyesakkan, bahkan air mata yang banyak sekalipun tak dapat membasuh keringnya hati. Maria Magdalena mengalami titik itu. Kematian Yesus menyisakan ruang kosong di hatinya, sekaligus membuat harapannya padam. Tak ada lagi Guru yang menuntunnya untuk memaknai kehidupan. Tak ada lagi seorang Sahabat yang penuh hikmat, yang menerimanya dan mengajarnya dengan sabar. Maria merasa patah. Ia tenggelam dalam tangis yang semakin menariknya masuk dalam kepedihan hati. Di tengah rasa patah itu, Seorang yang diratapinya ada di hadapannya, namun ia tidak mengenali-Nya. Hingga Ia memanggil namanya, “Maria!” – barulah Maria tersadar, itulah Sang Guru yang ia kasihi.

Saudara, adakah duka yang sedang menyelimuti hati kita dan membuat kita sulit untuk merasakan kehadiran Tuhan? Sementara Ia hadir dan bercakap dengan kita di tengah peristiwa sehari-hari, kita tidak mengenali-Nya karena kita sibuk dengan perasaan-perasaan yang berkecamuk di hati. Hari ini kita mengingat Kristus yang bangkit. Kuasa kebangkitan Kristus berkuasa menyelamatkan kita dari hukuman dosa, sekaligus menerobos dinding-dinding hati kita yang selama ini menjadi penghalang bagi kita untuk mengenali kehadiran-Nya. Lembutkan hati, kenali suara-Nya, agar dukacita itu tidak menghalangi perjumpaan kita dengan Dia.

Selamat Paskah! (HAS)

You May Also Like

Keluarga yang Tangguh

Seorang atau keluarga percaya yang setia dan hidup dalam persekutuan yang taat…

MEMPERKATAKAN FIRMAN DENGAN BIJAK

Ul 18:15-20, I Kor 8:1-13, Markus 1:21-28 Ketika kita merenungkan tema: “Memperkatakan…

Makin Disukai Tuhan dan Sesama

Saya ingat ketika duduk di kelas enam SD, ada pelajaran IPA tentang…