ambing oleh angin sakal. Mereka bersusah payah 0 mendayung di tengah badai itu. Di tengah kebingungan
dan ketakutan, Yesus datang, berjalan di atas air. Tetapi hal 39 ini justru membuat mereka semakin ketakutan. Kita dapat membayangkan betapa kalutnya pikiran mereka saat itu. Lalu apa yang Yesus lakukan? Menghardik angin badai supaya menjadi tenang? Menurut catatan Markus 6:45-52, Yesus pertama-tama berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Apakah perkataan ini untuk angin badai?
50 Atau mungkin untuk gelombang yang tak kunjung mereda? Tidak. Perkataan ini untuk mereka: para murid yang sedang kalut. Ada angin sakal yang lebih mengganggu 30 dalam hati dan pikiran mereka. Yang membuat mereka terjebak dalam kebingungan hingga tak dapat melakukan apa-apa. Yang menghalangi pikiran mereka sehingga mereka tidak dapat melihat Yesus yang menyertai mereka, dan berkuasa mengubah keadaan mereka. Maka sebelum angin sakal yang di luar diatasi, angin sakal yang di dalam yang pertama-tama perlu ditenangkan oleh Yesus.
Adakah hari-hari kita dijalani dengan pikiran kalut nan semrawut? Hati kita terus menerus dalam keadaan tidak damai sampai kita tidak dapat mengerjakan banyak hal yang baik dan berarti? Minta pada Tuhan supaya Ia membuat kita tenang, dan mampu melihat kehadiran-Nya, di tengah-tengah kehidupan kita saat ini.
/XMPD)