Aku hendak menggubah sebuah syair
tapi aku ragu apakah aku harus melakukannya? Waktuku tak banyak, lembar putih ini harus tercoreng Tapi apakah aku bisa menyusunnya:
Kata demi kata, kian demi kian?
Aku ragu, karena menguntai kata tak sukar Tapi mudah merajut makna? Aku ingkar Bagai nama hendak diberi
Bagaimana aku membuatnya jadi?
Aku ragu kalau syair itu berbunyi
kalimat baris berbaris tiada berkhidmat pesan moral berbalik menyerangku sendiri sang empu yang tak empunya hikmat
Aku ragu harus memulai dengan apa
dan mengakhirnya dengan apa
Aku ragu mengisi ruang hampa di tengah-tengah mengakali spasi yang tak boleh berderet dua
Aku terdiam ragu Aku bahkan ragu apakah aku harus terdiam Maka dalam diam aku meragukan aku yang terdiam
Keraguanku menyeretku dari baris pertama sampai di titik ini. … tetapi tidak membawaku ke mana-mana.
Sebuah puisi yang mengajak kita untuk berefleksi tentang keraguan yang buruk, yang bisa membuat kita tidak dapat melakukan apa-apa, atau hilir mudik berbuat banyak tetapi tidak berarti apa-apa, hanya melelahkan dan semakin melemahkan. Datanglah pada Tuhan, teguhkan dirimu, dan nantikanlah Dia! (CPH)