Seorang pria tua duduk di depan rumahnya, menggenggam batu kecil yang ia pungut setiap hari. la percaya bahwa batu itu membawa keberuntungan. “Semakin banyak batuku, semakin bahagia hidupku,” katanya.

Orang-orang menertawakan keyakinannya. “Mana mungkin batu-batu itu membuatmu bahagia?” Tapi mereka lupa, mereka pun mengumpulkan ‘batu’ sendiri: status sosial, gelar, uang, dan pengakuan. Bedanya, batu mereka berbentuk lebih modem—rumah besar, kendaraan mewah, dan followers ribuan di media sosial.

Paulus pemah menjadi ‘kolektor batu. Ia punya segalanya: pendidikan terbaik, status religius tinggi, dan keturunan yang dihormati. Tapi ketika ia mengenal Kristus, semua itu ia anggap “sampah.” Bukan karena tak berharga di dunia, tetapi karena dibandingkan dengan Kristus, semuanya tidak berarti.

Sekarang, pertanyaannya: batu apa yang masih kau genggam? Apakah itu gengsi, popularitas, atau validasi dari orang lain? Sampai kapan kau akan mengumpulkan batu-batu yang tak akan menolongmu di akhir hidup?

Lepaskan. Hanya Kristus yang layak dikejar. Jangan biarkan pemikiran dunia mengubahmu menjadi kolektor batu yang tak bemilai. (EBWR)

You May Also Like

Menjadi Pribadi yang Dibanggakan

Frederick Douglass, penentang perbudakan di AS, menulis 00 riwayat hidupnya sebagai anak…

September 2013 Menjadi Kristen Yang Merendah Dan Pemurah

Dalam Lukas 14:1 Tuhan Yesus menghadiri sebuah perjamuan makan di rumah salah…