Apa jadinya jika kisah Paska berhenti di hari Sabtu? Di dalam tradisi Yahudi, hari sabtu adalah hari sabat dimana setiap orang tidak diperbolehkan beraktivitas, bekerja, dan ‘healing’ sesuka hati. Di hari ini banyak di antara mereka yang lebih memilih untuk duduk diam di dalam rumah. Terlebih lagi, masih terbayang di memori mereka peristiwa mencekam yang terjadi kemarin hari. Maria Ibu Yesus tentu menangis tanpa henti bila mengingat Putranya yang dilecehkan dan mati mengenaskan. Maria Magdalena dan perempuan-perempuan lain mungkin berkumpul di sebuah ruang sambil menggenggam tangan satu dengan yang lain, berpelukan, bahkan berdoa tanpa tahu kepada siapa lagi mereka harus berdoa. Bagaimana dengan Petrus? Sambil muka yang termenung dan menyesal ia berada di gudang mencari jala ikan dan berharap mendapatkan kelegaan dari pekerjaannya. Di hari itu sang ketua kelas itu lebih tepat mendapat gelar si pecundang yang menyangkal Gurunya sendiri. Lain lagi dengan prajurit yang mengakui Yesus adalah benar Allah, dengan perasaan bergetar ia berpikir, “Aku telah membunuh Allah!” Hari Sabtu itu segala sesuatu berjalan sunyi dan sangat lambat. Seandainya kisah Paska berhenti di hari Sabtu, maka manusia berjalan tanpa arti.
Bersyukur kisah ini tidak pernah berhenti di hari Sabtu. Segala berubah ketika Yesus menampakkan diri di hadapan beberapa orang. Sabtu yang sunyi berubah menjadi hari kemenangan. Ketakutan, kesedihan, penyesalan diubah menjadi sukacita yang besar. Kematian tidak lagi mampu membinasakan, sebaliknya Kristus adalah bukti bahwa kebangkitan orang mati adalah fakta kemenangan.
Kalau kita gambarkan kehidupan ini, dimanakah saat ini kita berada? Apakah di “hari Jumat” penuh penderitaan atau di “hari Sabtu” yang sunyi senyap? Apapun hari kita, ingatlah
akan ada “hari Minaai 2 dimana kita akan maravakan