Mengikuti titinada ajakan penuntun langkah datanglah ke Bait-Nya dengan hati bersuka Sedang Yang Empunya Bait hatinya bersusah Karena yang dipanjat ramai-ramai

bukan tangga “kerinduan”

tapi tangga sosial

dengan ritual demi ritual jadi pijakan

bersama mulut berhias “Haleluya” “Puji Tuhan”

Sang Tuan yang Maha Menanggung Segala Sesuatu pun tidak tahan melihat ibadah penuh kejahatan: “Festival Kemunafikan”

Yang isi perayaannya:

meninggikan diri dalam doa ucapan syukur

minim empati saat menceritakan kesaksian mengatakan ini itu sesat sambil membenarkan diri

Padahal Bait Kasih-Nya terbuka lapang Ruang Maha Akrabnya menanti dikunjungi Oleh insan yang lelah nyaris menyerah berjibaku lawan dosa dan kegagalannya

Bagi mereka, tangan-Nya berperkara, “Sekalipun dosamu merah, akan putih jua!” Maka jadilah mereka beribadah dalam peluk-Nya.

Sebuah puisi yang saya beri judul “Ibadah yang Jahat” menjadi perenungan kita saat ini untuk menyadari bahwa kehadiran kita dalam relasi dengan Allah sejatinya perlu dijalani dalam kejujuran dan kerendahatian, yang menolong kita untuk mengaku salah dan dibenarkan oleh Allah. Di situ, kita akan berjumpa dengan kasih-Nya yang melayakkan seluruh kehidupan kita. Mari datang ke Bait Kasih-Nya dengan hati

You May Also Like

Tidak Aji Mumpung

Ada lirik lagu yang diciptakan oleh Guruh Soekarno Putra dengan judul “AJI…

Adven 4

22 Desember 2013 Iman Datang, Ketakutan Hilang Yesaya 7:10-16: Roma 1:1-7: Matius…

Dosa Membutakan, RohNya Mencelikan

Kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa membawa dampak buruk dalam kehidupan…

Semua Adalah Satu

Nelson Mandela lahir di Feso 18 Juli 1918 dan wafat 5 Desember…