Perkataan Simeon saat berjumpa bayi Yesus, bahwa ia telah melihat keselamatan yang dari Tuhan, merupakan sebuah ungkapan syukur dalam kepuasan batin, sebab ia menerima penggenapan dari janji Tuhan yang selama ini dinantikannya. Kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Selama bertahun-tahun ia menanti. Hari itu, ia menggendong Yesus, Sang Mesias yang dijanjikan. Bisakah Anda bayangkan rasa haru dalam hatinya? Tahun-tahun penantian dalam kesetiaan serta ketaatan terasa tidak sia-sia, saat yang dinantikan itu tiba. Inilah yang terjadi pada seorang yang terus berharap, terus percaya, dan tak lelah menanti janji Tuhan.
Dalam hidup kita, mungkin kita pun berhadapan dengan tahun- tahun penantian. Perjuangan kita kadang terasa melelahkan dan kita tidak tahu di mana ujungnya. Tetapi, apakah kita percaya bahwa semua ini akan berujung pada sebuah kepuasan batin saat kita tetap setia melanjutkan perjuangan dan penantian itu bersama Tuhan? Semangat untuk melanjutkan perjuangan dan penantian dalam kesetiaan juga diberitakan melalui Yesaya, ratusan tahun sebelum kelahiran Yesus. Dalam bacaan pertama hari ini, Yesaya menubuatkan kabar keselamatan bagi Sion. Mereka yang tetap setia meski di tengah pembuangan, suatu saat akan melihat hasilnya: meski tampak lemah dan hina di mata manusia, di tangan Tuhan mereka akan menjadi mahkota keagungan (Yesaya 62:3).
Konsistensi Tuhan terhadap janji-Nya tidak diragukan. Sejarah mencatat penggenapan demi penggenapan janji Ilahi itu, meski saat manusia sudah melupakannya. Kita sebagai anak-anak Allah diajak untuk meyakini janji-janji Allah bagi kita. Rasul Paulus menggunakan satu istilah bagi identitas anak-anak Allah, yaitu “ahli waris” (Galatia 4:7). Ahli waris adalah pihak yang sudah pasti menerima penggenapan janji. Maka saat berbagai persoalan mengombang-ambingkan iman kita, tetaplah teguh dalam Kristus bahwa segala upaya kita dalam kesetiaan kepadaNya tidak sia-sia. Mari lanjutkan perjuangan
aj an gn