Pemahkah kita merasa bingung dan tidak tahu harus berbuat apa lagi dengan kehidupan yang dijalani? Rasanya masalah dan pergumulan tidak pemah berhenti dan sulit untuk dilewati. Hidup layaknya jalan yang gelap dan buntu. Hal ini juga pemah dialami oleh Abraham dan Sara di tengah usia yang tidak lagi muda. Mereka sampai berusia ratusan tahun belum memiliki keturunan. Namun, Allah menjanjikan bahwa dari Abraham dan Sara akan lahir sejumlah bangsa yang besar, keturunan yang banyak. Oleh karena iman, mereka terus berharap dan percaya kepada Allah, mereka tidak menjadi lemah hanya karena usia mereka yang sudah ratusan tahun. Allah pun menggenapi janji-Nya.
Dalam Alkitab, kita melihat kisah-kisah orang beriman. Setiap kisah tidak ada yang sempurna. Mereka mengalami juga kesulitan, penderitaan, kesalahan, dan keberdosaan, layaknya kita. Tapi karena iman yang menolong mereka, anugerah Allah menjadi nyata di tengah kehidupan mereka. Allah menepati janji- Nya, menyatakan kuasa-Nya, dan melakukan keselamatan- Nya, bahkan yang sempuma di dalam Yesus Kristus.
Kristus menjadi perintis iman dan iman-Nya sempuma (lih. Ibr 12:2), karena la mengabaikan kehinaan dari penderitaan yang dialami-Nya, dan tetap taat kepada Allah untuk melakukan jalan salib, demi keselamatan dan pemulihan relasi Allah dan manusia. Alhasil, la duduk di sebelah kanan takhta Allah. Kita adalah orang yang diselamatkan karena iman kepada Kristus. Anugerah yang kita terima bukan karena usaha kita, tetapi dari Allah melalui karya pengorbanan Kristus. Maka perlu bagi kita untuk terus hidup berdasar pada iman. Hidup beriman dilakukan dengan membangun relasi yang intim dan penuh cinta kasih bersama Allah. Saat kita menjalani kehidupan yang sulit sekalipun tidak lagi menjalaninya atas dasar ambisi diri (menyangkal diri), tetapi berdasar pada iman kepada Allah — mengikut Kristus. Kita membuka ruang bagi Allah untuk turut bekerja dan ikut melakukan kehendak-Nya -memikul salib.